Rindu Gelatik dan Pancawarna

Rindu Gelatik dan Pancawarna

Sejumlah burung dilukis Andreanus Gunawan. Selain untuk disertakan dalam sebuah pameran, sebenarnya ada yang diresahkannya tentang burung-burung indah dan langka itu.

Untuk pameran yang dikhususkan bagi eks pelukis poster film bioskop Surabaya berjudul Mindah, Andre -panggilannya- hanya menampilkan objek burung. Jumlahnya ada enam. Cuma jenis burung yang indah saja yang digambarnya. Baik dari segi warna maupun suara.

Bahkan bisa dibilang burung tersebut sudah langka. Di antara karya-karya pelukis peserta lainnya dalam pameran, enam burung indah dan langka itu biasanya ditemui di persawahan, kebun, sungai, sampai rawa-rawa di pedesaan.

”Namun, karena perkembangan teknologi dan peradaban, jumlahnya semakin sedikit. Saya khawatir, kita nanti tidak bisa melihatnya pada masa mendatang,” tutur Andre.

Burung gould amadine dalam koleksi karya ”A Beauty”. Salah satu jenis burung kecil yang biasa ditemui di alam. Namun, jumlahnya kian sedikit karena perburuan. (Andreanus Gunawan untuk Harian Disway)

Sebuat saja burung jenis gould amadine atau gouldian finches. Di Pulau Jawa, burung tersebut biasa disebut burung pancawarna. Sesuai namanya, burung ini punya lima warna pada bulunya. Indah sekali.

”Kalau disilangkan dengan cara tepat, akan melahirkan peranakan dengan warna bulu baru yang lebih indah lagi,” ungkapnya.

Ada juga burung yang familiar didengar, gelatik. Burung ini sering ditemui di persawahan. Dalam lukisannya, Andre menggambarkan burung itu tengah hinggap di atas batang padi. Seperti tabiat umumnya.

Warnanya dibuat Andre serealistik mungkin. Sama seperti yang biasa dilihatnya saat sedang berada di persawahan. Sayang burung ini terancam punah. Sangat jarang kelihatan seperti saat Andre semasa kecil.

Andreanus Gunawan merasa resah dengan eksistensi burung-burung yang makin lama makin hilang. Salah satunya adalah gelatik. (Andreanus Gunawan untuk Harian Disway)

”Itu karena gelatik jadi objek perburuan untuk dijual. Maklum kicauanya indah. Sekarang suaranya sulit didengar lagi di alam bebas. Padahal dulu saya mudah banget ketemu gelatik di sawah ketika makan bulir-bulir padi,” kenangnya.

Di The Progo 10 Tavern & Music, Andre sebenarnya tak sendiri. Pameran dilaksanakan bersama rekan-rekannya dari Ikatan Pelukis Poster Film Indonesia (IPPFI). Ada Jean Tjendana, E. Mulyono Badrie, Kriswanto Kurniawan, Mpu Harrys Poerwa, Mada Linggau, Budiono, Didik Kiswoyo, David Sutjahjono, Adhi Tjahjono, OCT Yoyok S, dan Z. Hudi.

Mereka datang dari berbagai kota. Mulai dari Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Pasuruan, dan lain-lain. Serta ada yang dari Sumatera Selatan.

Mindah yang menjadi judul, sekilas mirip bahasa Jawa. Bermakna memindahkan dalam kata kerja. Namun sebenarnya akronim dari mini nan indah. Maksudnya ajang pameran dengan ukuran lebih kecil dari kanvas lukis pada umumnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: