Royal Regantris Hospitality-The Luntas Indonesia Pentaskan Ludruk Opera Sam Pek Eng Tay

Royal Regantris Hospitality-The Luntas Indonesia Pentaskan Ludruk Opera Sam Pek Eng Tay

Para aktor dan tim pementasan Sam Pek Eng Tay berfoto bersama usai pementasan di Royal Regantris Cendana.--

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Di Royal Meeting Room lantai 9 Royal Regantris Cendana, ludruk opera dengan lakon Sampek Eng Tay dipersembahkan Royal Regantris Hospitality bersama The Luntas Indonesia. Bercampur bahasa Suroboyoan, legenda cinta dari Negeri Tiongkok itu membuat ger-geran penonton.

Demi mengangkat kebudayaan dan kesenian lokal, Royal Regantris Hospitality memilih ludruk untuk diangkat. Pentas pertama diawali pada Agustus saat peringatan Hari Kemerdekaan RI tiba.

Penampilan The Luntas Indonesia yang dipimpin Robets Bayoned yang bisa didaksikan penonton umum dengan tiket Rp50 ribu itu sangat menghibur. ”Kami mulai dengan Sam Pek Eng Tay yang sudah melegenda,” terang Sekar Laksita Wangi, Corporate Marketing Communication Manager Royal Regantris Hospitality.

Digelar pada pukul 19.27 pada 27 Agustus 2022 lalu, Robets memulai dengan berkidungan jula-juli. Dengan kumis dan jambang yang memutih, Robets berpakaian serba hitam dengan udeng khas Surabaya itu berpantun jenaka dalam bahas Jawa Suroboyoan.

”Aku kenalan karo arek wedok ayu tenan. Aku ngaku nek jenengku Dilan. Areke ngguyu tapi koyok penasaran. Jarene Dilan tapi rupaku koyok garangan.” 
Eng Tay (tengah) bercengkerama dengan keluarganya terkait perjodohan yang dilakukan papanya dengan Panglima Liong.

Diceritakan bahwa ia mengenal seorang perempuan berparas cantik. Mengaku bernama Dilan. Si perempuan tertawa, tapi seperti penasaran. Dia bilang, Dilan kok mukanya seperti musang. Penonton pun tertawa.

Usai ber-jula-juli, terdengar musik ala Tiongkok. Lengkap dengan instrumen ala guzheng yang dimainkan melalui piranti digital. Dalam adegan pertama, ada Anam Kecheng dan Rinna, sebagai papa dan mama Eng Tay.

Keduanya mencari puteri semata wayangnya yang menghilang. Tiba-tiba pembantu mereka, Linche, datang sembari membawa seorang tabib. ”Pak, Bu, anak sampeyan nek gak dituruti isok gendeng,” ujar tabib. Jika papa mama Eng Tay tak menuruti kemauan anaknya, maka Eng Tay bisa gila.

Lantas tabib itu membuka jati dirinya. Dialah Eng Tay yang menyamar sebagai tabib. Eng Tay yang diperankan Nandhita Putri berujar bahwa papa mamanya tak mengenali dirinya yang menyamar. Maka bila Eng Tay menyamar sebagai laki-laki agar bisa sekolah, penyamaran itu akan berhasil.

Mulanya, Papa Eng Tay menolak. Karena hanya anak laki-laki yang bisa sekolah. Sedangkan perempuan, kodratnya di dapur. Namun Eng Tay terus merajuk hingga kedua orang tuanya pasrah. Apalagi Mama Eng Tay ingin melihat puterinya dapat tumbuh sebagai seorang intelektual.
Adegan saat Tito Latah yang memerankan anak Panglima Liong, bersedih karena tahu Eng Tay sebenarnya tak mencintainya.

Eng Tay diceritakan bersekolah di Regantris High School. Nama yang menunjuk Royal Regantri Hospitality dan hotel tempat manggung. Biar makin lokal, nama-nama daerah yang disematkan mengambil area hotel yang berada di Kelurahan Tegalsari, serta beberapa kawasan di Jawa Timur.

Mulanya tokoh Sam Pek yang diperankan M Asrofi, bersama kawannya, Wong Ling Lung yang diperankan Roy, masuk ke panggung. Mereka pelajar yang hendak menempuh ilmu di Regantris High School.

Di tengah perjalanan, mereka bertemu Eng Tay. ”Nama saya Yu Ying. Saya berasal dari Beji,” kata Eng Tay. ”Beijing? Beijing, Tiongkok,?” tanya Sam Pek. ”Bukan Beijing, tapi Beji. Pasuruan,” sahut Eng Tay, disambut ger-geran. 

Dengan bantuan Google Maps, mereka mencari lokasi sekolah di daerah Tegalsari. Setelah ketemu, Sam Pek, Eng Tay, dan kawan-kawan belajar di bawah bimbingan seorang guru beraksen Tionghoa kental dan lucu. ”Murid yang boleh belajar di sini harus laki-laki. Harus tinggal di asrama dan tidak boleh meninggalkan asrama tanpa seizin RT/RW,” ujar guru Huang yang diperankan Ayok itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: