Sehari Susuri Trek Panjang Pendakian Gunung Argopuro; Budi Setiawan Betah di Puncak Rengganis

Sehari Susuri Trek Panjang Pendakian Gunung Argopuro; Budi Setiawan Betah di Puncak Rengganis

Budi Setiawan, berpose di gunung Argopuro, gunung dengan trek panjang. --

Fajar menyingsing. Sejenak kami menikmati keindahan matahari yang mungkin masih mengantuk. Sinarnya masih redup. Bunyi gesek sayap serangga hutan menjadi intro mengiring simfoni pagi. Kokok ayam hutan, entah di mana ayam itu. Melengking tinggi dan panjang.
Bersama kawan-kawan pendaki Gunung Argopuro, berpose di pos pertama.

Ibarat sebuah grup band, ayam hutan adalah lead vocal-nya. Sedangkan para serangga -orang menyebutnya garengpung- adalah acapela alam. Merdu dan tak tertandingi baik oleh Mozart maupun Beethoven sekali pun.

Perlahan sinar matahari menerangi lokasi savana yang kami temui dalam perjalanan. Hijau menguning, helai demi helainya lembut mengayun, seakan memanggil kami untuk datang.

Kami semua membentangkan kedua tangan. Menghirup udara pagi yang segar. Yang seperti inilah yang kami rindukan. Setelah sekian lama berkutat dengan polusi perkotaan.

Terus berjalan, kami menemukan bangunan kecil. Itulah pos 1. Di situ terdapat mata air kecil. Kami mengisi perbekalan air. Perjalanan cukup melelahkan, jadi persediaan air harus terus tersedia.

Jangan khawatir, alam Rengganis di Gunung Argopuro ramah terhadap pendaki. Ketika sampai di pos 2, kami juga menemukan mata air. Jadi jika mendaki Gunung Argopuro, dijamin tak kehausan deh. Surga mata air di sepanjang jalan. Alam menyediakan segalanya. 

Saya jadi ingat petuah bijak Mahatma Gandhi: Alam sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia. Tapi alam tak akan cukup untuk memenuhi keserakahan manusia.

Semoga nuansa alami di gunung ini tetap lestari. Tak terjamah oleh ambisi-ambisi para pengusaha demi mengeruk keuntungan.

Selain mata air, Gunung Argopuro terkenal dengan savananya. Total ada sepuluh di sepanjang trek yang kami lalui. Savana terluas ada di rute setelah pos dua. Di pinggir savana terdapat bangunan kecil. Itulah pos 3 atau disebut Pos Savana Besar. 
Menyusuri savana di Gunung Argopuro. Menyusuri gunung tersebut tak cukup dilakukan hanya sehari.

Biasanya para pendaki melepas lelah sembari duduk dan meluruskan kaki. Itu pula yang kami lakukan. Berhenti sejenak, minum, bersantai, dan berbincang akrab.

Setelah segar kembali, kami melanjutkan perjalanan. Menuju pos 4. Di situ terdapat bekas landasan pesawat terbang yang dibangun pada era kolonial. Sempat melihat-lihat sejenak kiri-kanan lajur landasan itu. 

Sempat membayangkan sejarah silam. Rupanya kondisi alam Argopuro sangat tepat jika digunakan untuk bersembunyi atau bertahan dari serangan musuh. Aksesnya cukup susah.

Setelah itu kami melewati Pos Cisentor, Pos Rawa Embik, serta Pos Savana Lonceng. Sempat beristirahat untuk makan dan minum. Lalu berangkat lagi ke tiga puncak Argopuro yang jaraknya berdekatan; Puncak Argopuro, Puncak Hyang, dan Puncak Rengganis. 

Yang terakhir konon dulu adalah tempat yang didiami Dewi Rengganis. Suasana puncak itulah yang jadi keinginan seluruh pendaki di muka bumi. Kami disana sejak pagi hingga menjelang senja. Menikmati permai alam. Melihat matahari yang kembali merebahkan diri dan beristirahat untuk datang lagi esok hari.

Beberapa kali mendaki gunung, baru kali ini saya temui rute terpanjang jalur pendakian. Turun pun sudah beda kabupaten. Asyik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: