Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Batik Menyatukan Connection in Action (51)

Mijn Roots Mencari Orang Tua Kandung: Batik Menyatukan Connection in Action (51)

Anggota Mijn Roots Bud Wichers menyiapkan sembako dari sumbangan Donation in Action di Surabaya.-Dok Mijn Roots-

Minj Roots membuat connection in action. Idenya muncul ketika Tim van Wijk membutuhkan donasi untuk pengobatan ibu kandungnya, Elya Rosani Tim Hiraeth, di awal 2021.

--

 

Indonesia adalah negara paling dermawan versi World Giving Index (WGI) 2021. Menurut situs filantropi.or.id, WGI merupakan laporan tahunan yang diterbitkan Charities Aid Foundation (CAF). Mereka mengumpulkan data dari Gallup di 140 negara, lalu membuat daftar peringkat.

 

Fakta lain yang terungkap dari CAF adalah 8 dari 10 orang Indonesia berdonasi sepanjang 2021. Sedangkan tingkat kerelawanan di Indonesia tiga kali lipat lebih besar daripada rata-rata tingkat kerelawanan dunia. Gokil!

 

Sebagian besar negara Barat yang biasanya menempati 10 besar WGI mengalami kemerosotan peringkat. Mungkin karena krisis ekonomi selama pandemi.

 

Salah satu yang mengejutkan adalah Amerika Serikat yang selalu konsisten di posisi 5 besar ternyata merosot ke posisi 19. 

 

Jadi, selama pandemi, orang Indonesia justru saling gotong royong untuk membantu sesama. Ada beberapa alasan mengapa hal itu terjadi.

 

Pertama, tradisi dan pengaruh ajaran agama tentang pentingnya bederma. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, masyarakat Indonesia banyak mengamalkan perintah zakat, infak, dan sedekah. Ajaran untuk saling berbagi juga begitu kuat di semua umat beragama di Indonesia. Itulah yang menjadi pendorong utama kegiatan filantropis selama masa pandemi.

 

Kedua, pegiat filantropis di Indonesia relatif berhasil dalam mendorong transformasi kegiatan donasi konvensional ke digital. Penggunaan media sosial begitu efektif untuk penggalangan donasi.


Tim Mijn Roots Rudi membagikan bingkisan untuk keluarga anak-anak adopsi Belanda di Indonesia.-Dok Mijn Roots-

Lantas, apa kaitannya dengan Mijn Roots? Yayasan yang berisi ribuan anak adopsi asal Indonesia yang sedang mencari orang tua kandung itu rupanya juga membuat gerakan donasi untuk keluarga anak adopsi yang membutuhkan. Banyak di antara masih hidup dalam keterbatasan.

 

Ada hal yang menarik dari kisah-kisah para pencari ”akar” itu. Meski mereka besar di Belanda, ada banyak kebiasaan khas Indonesia yang tetap mereka lakukan selain kegiatan donasi itu.

 

DNA Indonesia yang diwariskan orang tua mereka masih mengalir. Banyak di antara mereka yang terbiasa duduk jongkok. Sangat tidak Eropa.

 

Sumi Kasiyo juga merawat sang ayah angkatnya sebelum ia meninggal pada 2014. Itu juga bukan kebiasaan orang Eropa. ”I take care my father just like an Indonesians (Aku merawat ayah angkatku seperti kebiasaan orang Indonesia, Red),” ujar Sumi.

 

Itu tak berarti anak-anak Eropa yang tidak merawat orang tuanya di usia senja disebut sebagai anak durhaka. Sebab, itu sudah menjadi kesepakatan bersama dan kebiasaan mereka.

 

Sudah jadi hal lumrah bahwa orang tua di sana sudah merencanakan hidup di panti jompo ketika memasuki usia senja. Sedangkan di Indonesia, terkadang anak yang mengirimkan orang tuanya ke panti jompo bisa mendapat label anak durhaka.

 

Kembali ke soal donasi. Kebiasaan orang Indonesia itu juga muncul di anggota Mijn Roots. Awalnya Sumi berinisiatif untuk menggalang donasi untuk keluarga ibu Tim yang sedang sakit. Ana lantas mengajak Sumi bergabung ke Connection in Action.

 

Rupanya upaya itu mendapat respons positif. Mereka berhasil mengumpulkan uang untuk biaya berobat di Semarang. Sayang, sang ibu meninggal sebelum bertemu dengan Tim. Usianyi 79 tahun.


Produk Donation in Action dengan ornamen batik.-Dok Mijn Roots-

Connection in action tidak hanya mengumpulkan duit secara cuma-cuma. Mereka menawarkan berbagai produk bikinan sendiri dari kain batik lokal. Sumi menjahit sendiri produk-produk seperti jaket, celemek, baju, ikat rambut, dan kerajinan tangan lainnya. ”This is my sewing machine (Ini mesin jahitku, Red),” kata Sumi saat wawancara lewat video call akhir September lalu.

 

Batik laku keras. Mayoritas pembelinya adalah anak adopsi dan keluarganya di Belanda. Banyak juga yang memberikan donasi uang untuk paket Lebaran dan Natal. Isinya sembako dan kebutuhan sehari-hari. 

 

Rupanya kegiatan donasi itu makin mempererat hubungan antaranak adopsi itu. Dan, fakta yang perlu digarisbawahi adalah: batik menyatukan mereka. (Salman Muhiddin)

 

Minta Foto Prewed Baju Tradisional Jawa. BACA BESOK!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: