Pasuruan artikel

Catatan Perjalanan ke Tiongkok saat Pandemi (10): Demi Ikan Sejuta Umat

Catatan Perjalanan ke Tiongkok saat Pandemi (10): Demi Ikan Sejuta Umat

Kapal penangkap ikan di Taizhou. Kapal tersebut bisa menangkap 50 ton dalam satu malam.-Foto: Novi Basuki-Harian Disway-

ADA satu pepatah. Bunyinya: 人莫予毒 (rén mò yú dú). Ini biasa dipakai untuk menyatakan kepuasan setelah mengalahkan musuh. Artinya kira-kira: yang terkenal paling hebatpun bisa aku kalahkan, maka tak ada lagi yang akan bisa mencelakakan diriku.

Tentu itu terjemahan bebasnya. Kalau dimaknai secara harfiah, huruf paling belakang yang dibaca ”” (毒) itu, selain bisa diartikan sebagai mencelakakan, juga bisa diartikan sebagai virus.

Dengan begitu, peribahasa ini boleh-boleh saja kalau mau diterjemahkan: virus korona yang mematikan saja keok, maka tak ada lagi yang perlu aku takuti.

BACA JUGA:Catatan Perjalanan ke Tiongkok saat Pandemi (9): Swab Greges

Memang, selama di Tiongkok, yang orang-orang anggap sebagai sarangnya virus korona, kami semua tak mempan oleh serangannya. 

Ya, Pak Amal sempat greges. Tapi langsung sehat kembali setelah minum Paracetamol dan Vitamin C. Apalagi masih ditambah Twitter plus ngopi plus ngudut plus lagu dangdut. Jelas tak ada lagi yang bisa merongrong primanya jiwa raganya. Semua jadi bisa diatur.

Makanya, meeting maraton selama 3 hari berturut-turut di Taizhou tak jadi soal. Padahal, dari pagi sampai malam rapat terus. Istirahat cuma pas waktu makan.

Memang melelahkan. Sangat. Tapi, demi memperjuangkan apa yang disebutnya sebagai “ikan sejuta umat”, apalah arti suatu kondisi yang bernama capek?

Psikis tak usah ditanya. Sudah selama 13 hari tersiksa. Terutama tiap kali mau di-swab. Takut hasilnya positif: kami akan dikarantina dan tidak bisa pulang semua. 

Pak Yusuf benar, “Antara nekat dan bodoh cuma beda-beda tipis.”


Rois, kapten kapal di Juwana, Jateng, di atas kapal pengangkut ikan di Taizhou-Foto: Novi Basuki-Harian Disway-

Rombongan yang dikomandani Pak Yusuf dan Pak Amal ini nekat ke Tiongkok karena gregetan dengan harga pokok penjualan (HPP) ikan layang, cakalang, kembung, dan ikan-ikan sejenis lainnya yang dimakan jutaan manusia Indonesia tiap harinya, masih tergolong mahal.

“Bayangkan, untuk HPP cakalang dan kembung saja sudah di angka Rp 6.000 per kilonya. Itu masih di tengah laut, lho, Mas. Belum ditambah ongkos angkut dari tengah laut sampai ke gudang kami di Juwana sana. Masih belum ditambah ongkos-ongkos lainnya. Ini juga masih belum dimasukkan kenaikan harga solar,” kesal Pak Rois, kapten kapal yang ikut bersama kami ke Tiongkok.

Penyebab tingginya HPP ini macam-macam. Namun yang krusial, menurut Pak Rois, adalah karena frekuensi penangkapan ikan kita dalam satu malam paling banter cuma bisa dua kali. 

Sumber: