Pasuruan artikel

Upaya Perguruan Tinggi Mengejar WCU

Upaya Perguruan Tinggi Mengejar WCU

Agung Sosiawan dan Bagong Suyanto.-Foto: Dokumentasi Pribadi-

UPAYA perguruan tinggi (PT) di Indonesia untuk menembus ranking global yang membanggakan dan disegani dunia internasional membutuhkan energi dan kerja keras yang terpadu dari seluruh elemen yang ada.

Ketika kontestasi antar PT makin ketat untuk meraih 100 besar ranking dunia, tidak mungkin upaya mendongkrak ranking PT di Indonesia hanya dilakukan setengah hati. Seluruh jajaran, baik di tingkat fakultas maupun universitas harus konsisten bekerja bersama untuk memperlihatkan kinerja yang benar-benar terencana dan bertujuan.

Dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Kegiatan WCU-DAPT 2022 oleh Universitas Airlangga (Unair) di Hotel JW Marriott, 22 November 2022, disepakati bahwa menuju PT yang bereputasi global tidak mungkin dilakukan dengan cara-cara instan. Untuk mengejar reputasi global, PT di Indonesia, mau tidak mau, harus menyusun rencana kerja yang terarah sebagai fondasi yang kuat untuk berkontestasi di dunia internasional.

BACA JUGA:Mengembangkan Mutu dan Reputasi PTNBH Kelas Dunia

Meski sejumlah PT besar di Indonesia telah mendapatkan dukungan dana dari Dikti untuk melaksanakan program WCU (Word Class University), eksekusi kegiatan di lapangan yang mendukung capaian reputasi global tetap membutuhkan dukungan kinerja dari masing-masing PT. Tidak mungkin sebuah PT mampu meraih prestasi global jika kinerja Tri Dharma PT yang dikembangkan hanya biasa-biasa, tanpa didukung kegiatan yang benar-benar inovatif dan reputatif.

Sejumlah Kendala

Ketika membuka acara monev, Rektor Unair Prof Dr Mohamad Nasih SE MT Ak. telah menggarisbawahi arti penting keseimbangan antara proses dan output dalam upaya mengejar reputasi PT di kancah global. Artinya, apa pun upaya yang dikembangkan untuk mengejar prestasi global, tujuan akhirnya harus diarahkan untuk menghasilkan output yang jelas, yakni mendongkrak capaian dari berbagai indikator sebagai PT yang disegani.

Mempertahankan, apalagi mendongkrak, prestasi ranking PT di tingkat global bukanlah hal yang mudah. Sejumlah kendala yang acapkali dihadapi PT untuk meraih capaian prestasi global yang membanggakan adalah:

Pertama, bagaimana membangun koordinasi dan kerja sama yang solid di antara masing-masing fakultas, direktorat, dan jajaran pimpinan di kantor pusat PT. Walaupun semua pihak sepakat bahwa mendongkrak reputasi PT penting, tetapi dalam pelaksanaannya, masing-masing pihak kerap bekerja soliter. Seolah tidak saling menyapa satu dengan yang lain. 

Memang beberapa fakultas mampu berperan dalam pencapaian reputasi PT, namun masalahnya adalah ketika hal itu tidak diikuti oleh reputasi fakultas yang seimbang. Bahkan, di PT yang berhasil meraih prestasi membanggakan di kancah global, tidak jarang ada fakultas tertentu yang justru melorot prestasinya.


Sidang Senat Terbuka memperingati DIes Natalis ke-68 Unair, 9 November 2022.-Foto: Boy Slamet-Harian Disway-

Kedua, berkaitan dengan ketidakserasian yang terkadang masih terjadi di tingkat fakultas. Kesepakatan dan kerja sama antara bidang kerja sama dengan bidang keuangan, misalnya, tidak jarang masih belum berjalan dengan baik. Bisa saja terjadi, bidang kerja sama yang sudah berusaha untuk mengembangkan berbagai program inovatif, ternyata tidak mendapatkan dukungan yang memadai dari bidang keuangan. Kasus semacam itu, meski skalanya kecil, dampaknya menjadi besar ketika kinerja fakultas secara keseluruhan untuk mengembangkan aktivitas yang berdampak pada reputasi global terganggu.

Ketiga, ketika beban yang ditanggung para dosen dalam melaksanakan tugas pengajaran, bahkan pekerjaan administrasi, terlalu membebani. Selama ini, bukan rahasia lagi bahwa para dosen dalam pekerjaan mereka sehari-hari masih ditambahi dengan beban administratif. Misalnya, mempersiapkan akreditasi program studi dan lain-lain yang berpotensi mengganggu kinerja mereka menjalankan Tri Dharma PT. Bisa dibayangkan, bagaimana mungkin meminta dosen dapat berkinerja dan berprestasi yang membanggakan jika waktu mereka sebagian besar masih tersedot untuk menyelesaikan tugas administratif.

Keempat, persoalan kesejahteraan dosen yang masih belum memadai. Di berbagai PT, sudah bukan rahasia lagi jika banyak dosen lebih memilih aktif melaksanakan berbagai pekerjaan sampingan di luar PT untuk memperoleh tambahan penghasilan yang lebih signifikan. Sulit untuk meminta dosen fokus dalam aktivitas Tri Dharma PT ketika dalam kehidupan sehari-hari ketika mereka masih harus menghadapi tekanan kebutuhan hidup.

Sumber: