Pasuruan artikel

Catatan Perjalanan ke Tiongkok saat Pandemi (11-Habis): Drama Kepulangan

Catatan Perjalanan ke Tiongkok saat Pandemi (11-Habis):  Drama Kepulangan

Suasana penerbangan dari Fuzhou, Tiongkok ke Jakarta. Penumpang sudah tidak diwajibkan memakai masker. -Foto: Novi Basuki-Harian Disway-

KAMI sebetulnya masih ingin melihat galangan kapal. Di Taizhou. Tapi urung karena waktu yang kelewat mepet. Kami harus segera melakukan swab. Supaya 13 Oktober lusa bisa pulang ke Indonesia.

Selama di Taizhou, kami sebenarnya sudah swab tiap hari. Pas pertama kali sampai –yang sebelum keluar stasiun kereta itu. Kemudian di hari kedua: tanggal 11 Oktober. 

Hari ketiga tidak. Karena dari pagi sampai siang pergi menengok kapal pengangkutan ikan. Sedangkan sorenya, akan berangkat ke Fuzhou. Tidak nutut. 

BACA JUGA:Catatan Perjalanan ke Tiongkok saat Pandemi (10): Demi Ikan Sejuta Umat

Bermodal swab di hari kedua itu aslinya sudah cukup untuk dipakai check-in di bandara. Soalnya kami swab-nya sore. Sekitar jam 5. Sedangkan swab negatif yang diperlukan untuk check-in pesawat, maksimal yang dilakukan 48 jam sebelum keberangkatan. Sementara maskapai kami, sudah akan takeoff jam 07.35 dari Fuzhou. Berarti swab kami belum expired. Belum sampai 48 jam, kan? 

Tinggal menunjukkan bukti vaksin ketiga yang sudah dikonversi ke vaksin internasional melalui PeduliLindungi. Ke Tiongkok selama kebijakan zero-Covid memang begini: sulit masuknya, gampang keluarnya.

Masalahnya, swab di hari kedua itu bermasalah. Sejak registrasinya, bahkan.

Mula-mula Pak Yusuf. WeChat-nya tidak bisa memindai barcode untuk pengisian data swab. Dicoba berkali-kali tetap tidak bisa. Mr Wang memintanya minggir dulu. Karena antrean orang yang hendak swab panjang sekali waktu itu.

Pak Amal maju. Bisa.

Pak Rois maju. Aman terkendali juga.

Saya maju. Pun lancar jaya.

Aneh. Biasanya WeChat Pak Amal yang rewel. Karena sering kelupaan password. Mungkin akibat kebiasaan typo.

Sekarang malah punya Pak Yusuf yang cari gara-gara. Padahal sebelumnya tak pernah dibuat macam-macam.

Kami semua menepi. Menghampiri Pak Yusuf dan Mr Wang yang sibuk cari solusi.

Sumber: