Gatot: Masa Jabatan Ketua KPK Bertambah, Bisa Berdampak Pada Jabatan Presiden

Gatot: Masa Jabatan Ketua KPK Bertambah, Bisa Berdampak Pada Jabatan Presiden

Gatot Nurmantyo dalam sebuah diskusi di Surabaya, Minggu, 29 Mei 2023-Michael Fredy Yacob/Harian Disway-

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Gatot Nurmantyo, menyindir keputusan Mahkama Konstitusi (MK) yang menambah masa jabatan pimpinan KPK RI. 

 

Itu diungkapkan mantan panglima TNI itu saat menjadi pembicara dalam diskusi di forum akademis 'Membedah Persoalan Bangsa dan Negara', digelar oleh Forum Tanah Air (FTA) di Surabaya.

 

Ia menyebut, jika keputusan MK seperti itu, akan berdampak pada kebijakan lainnya. Salah satunya, masa jabatan presiden yang bisa bertambah.

 

"Ya sekarang ini kalau kita lihat MK, orang kita ini jadi frustasi. Ini Mahkamah Konstitusi kan harusnya menggunakan pisau analis Undang-undang dan sebagainya," kata Gatot, Minggu 28 Mei 2023.

 

BACA JUGA:1000 Anak Antusias Ikuti Kompetisi Permainan Tradisional Elingpiade di Kota Pasuruan

BACA JUGA:Sempurnakan Pendidikan dan Keterampilan Bagi yang Tidak Sempurna

BACA JUGA:Mario Bakal Menua di Penjara

 

Ia pun bingung dengan keputusan itu. "Apa hubungannya (MK) dengan pertambahan masa jabatan? Dan tidak ada namamya di tengah jalan itu (masa jabatan) ditambah, kecuali untuk (pimpinan) yang akan datang," jelasnya.

 

"Kalau ini bisa bahwa Mahkamah Konstitusi memutuskan perpanjangan jabatan KPK ditambah satu atau dua tahun, maka Mahkamah Konstitusi bisa dong masa jabatan presiden ditambah satu tahun. Kasus ini yurisprudensinya kan seperti ini," tambahnya.

 

Mantan Panglima TNI itu memprediksi, keputusan tersebut memiliki kaitan dengan "pesanan" tahun politik. "Tambahan masa jabatan, asumsi semua orang pasti ini akan ada kaitannya dengan politik-politik sekarang ini gitu, untuk apapun juga, siapapun juga yang menggunakan, " terangnya.

 

BACA JUGA:Cuaca Madinah Menggila, Kemenag Imbau Jemaah Bawa Alat Pelindung Diri

 

Di sisi lain, ia menanggapi kedekatan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, mantan jenderal bintang empat itu menilai hal tersebut sangatlah wajar.

 

Karena menurutnya, Prabowo adalah menteri kabinet Indonesia Maju. Sementara Gibran merupakan anak presiden RI Joko Widodo. "Jadi, jika Prabowo dekat sama anak presiden, kan wajar," tegasnya.

 

Namun, tidak menutup kemungkinan Prabowo dan Gibran berpasangan sebagai calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2024 nanti. 

 

Hanya saja, jika itu terjadi, akan ada aturan yang dirubah. Yakni Undang-Undang Nomor 7/2017 tentang Pemilu. Salah satunya mengatur mengenai batas usia minimal 40 tahun.

 

BACA JUGA:Helikopter Bell 412 Jatuh di Kebun Teh Ciwidey, TNI-AD: Tak Ada Korban Jiwa

 

“Kalau (Gibran) mau jadi cawapres kan nunggu keputusan MK. Karena masih muda. Belum sampai 40 tahun. Nanti aturan diubah apa enggak, tergantung aja sekarang kan, siapa yang bisa pendekatan,” ucapnya.

 

Saat ini MK sendiri sedang menggelar sidang pengujian Pasal 169 huruf q UU Nomor 7 tahun 2017. Sidang perkara Nomor 29/PUU-XXI/2023 ini dimohonkan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai pemohon I.

 

Sejumlah perseorangan warga negara Indonesia, yakni Anthony Winza Probowo (Pemohon II), Danik Eka Rahmaningtyas (Pemohon III), Dedek Prayudi (Pemohon IV), dan Mikhail Gorbachev (Pemohon V).

 

Pasal 169 huruf q UU Pemilu menyebutkan bahwa Persyaratan menjadi calon Presiden dan calon wakil presiden. Adalah berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: