Dua Generasi Penari Barong Penerus I Made Kerse: Berawal untuk Menjunjung Sungsungan (1)

Dua Generasi Penari Barong Penerus I Made Kerse: Berawal untuk Menjunjung Sungsungan (1)

I Nyoman Artawa dengan barong buntut koleksi keluarganya yang telah berusia 70 tahun. Dikoleksi sejak 1953. -Julian Romadhon-


HARIAN DISWAY - Sepeninggal maestro Barong I Made Kerse, ketokohannya dilanjutkan oleh puteranya, I Nyoman Artawa dan cucunya, Wayan Suartawan. Tiga generasi penari barong yang cukup disegani di Bali. Mereka memiliki kisah panjang dalam menekuni kesenian tersebut.
 
Selasar jalan Gang Nakula, Desa Buruan, Blahbatuh, Bali. Rumah I Nyoman Artawa cukup khas. Yakni memiliki interior dinding bata merah. Ia dan puteranya, Wayan Suartawan, menyambut Harian Disway bersama perwakilan lembaga Alit Indonesia cabang Bali. Kami dipersilakan duduk di ruang belakang, di sebelah tiga barong koleksi pribadinya.
 
Dua barong berukuran cukup panjang. Sedangkan barong yang di tengah lebih pendek. "Ini barong ketet, yang ditarikan dua penari," ujar Artawa, sembari menunjuk kedua barong yang berukuran panjang. "Sedangkan yang pendek ini disebut barong butut. Hanya ditarikan oleh satu orang," tambahnya.
 
Di rumah itu, muncul tiga generasi penari barong. Diawali oleh mendiang I Made Kerse, tokoh senior tari barong Bali. Ia pernah berkeliling Eropa dan Asia untuk menari barong. Bahkan diangkat sebagai guru besar jurusan tari tersebut di STSI Denpasar. "Saya sering diajak bapak menari barong di luar negeri. Jadi saya belajar kepada beliau," ujarnya.
Wayan Suartawan, generasi ketiga penerus maestro tari barong, I Made Kerse, kakeknya. -Julian Romadhon-

 
Kerse meninggal pada 2002. Ia dikenal sebagai maestro yang mampu membuat piranti barong yang ditarikannya seakan hidup. Sepeninggal Kerse, ketokohan itu diteruskan puteranya, Artawa, dan cucunya, Suartawan. Keduanya dianggap memiliki kemampuan yang hampir menyamai Kerse.
 
Suartawan mengusap bulu barong yang menjuntai, berwarna putih kecokelatan. Bulu itu dibuat dari sulur daun parasok atau pandan Bali. Lantas ia menunjuk bagian wajah barong. "Jadi ini mahluk mitologi Bali. Perpaduan antara harimau, singa dan lembu. Bulunya seperti singa, wajahnya harimau, tapi matanya seperti mata lembu," terangnya.
 
Fungsi awal tari barong adalah untuk kepentingan upacara-upacara di pura. Maka sifatnya profan atau sakral. Sebenarnya tari barong tak boleh ditarikan di sembarang tempat. "Hanya boleh di pura. Seperti jika ada piodalan pura," ujar pria 27 tahun itu. 
 
Namun, pada 1948, terjadi pengembangan fungsi tari barong di Bali. Demi memopulerkan budaya dan tradisi Pulau Dewata, para seniman barong saat itu bersepakat untuk membuat jenis tarian barong untuk umum. 
 
Bentuk barong yang dimainkan harus berbeda dengan barong untuk kebutuhan upacara. "Hasilnya, pada 1948 itu muncul kesenian barong for tourism. Diawali di daerah Batubulan. Menggunakan piranti khusus yang hanya ditarikan oleh satu orang," tuturnya.
 
Jenis barong itu disebut barong butut. Ukurannya lebih pendek. Sedangkan piranti sakral, disebut barong keket, yang ditarikan oleh dua orang.
 
Baik mendiang Kerse, Artawa dan Suartawan, tiga generasi itu memiliki tujuan awal sebagai penari barong. Yakni untuk kebutuhan sungsungan atau sakralitas. Menjadi penari barong yang terlibat dalam sebuah upacara, merupakan kebanggaan tersendiri.
 
Namun, proses untuk menjadi penari barong cukup panjang. "Sebelum menari, penari barong harus mengikuti ritus penyucian. Menggunakan banten dan sesaji lainnya. Istilahnya pewinten, atau proses menyucikan diri. Membersihkan segala hal negatif dalam hati dan pikiran," ungkap Artawa.
 
Karena proses itu sangat menunjang penari untuk dapat lebih berkonsentrasi. Saat menari, bisa memunculkan taksu atau energi lebih yang muncul dari dalam diri. Sehingga mampu menari dengan maksimal.
I Nyoman Artawa sedang menggendong cucunya, di depan tiga piranti barong. Artawa adalah generasi kedua, penerus I Made Kerse, ayahnya. -Julian Romadhon-


Tentu taksu pernah dirasakan langsung oleh Artawa dan Suartawan. Artawa menceritakan pengalamannya. Bahwa pada suatu ketika ia sedang tidak enak badan atau kurang fit. Padahal ia harus menari barong. 
 
Tapi dengan pewinten, ia dapat fokus. Saat piranti barong dikenakan, tiba-tiba ada energi yang menyelimuti. Semangatnya membara sehingga ia mampu menari dengan baik. "Tidak tahu dari mana munculnya energi itu. Pokoknya saat sudah memakai kostum barong, tubuh yang semula sakit tiba-tiba jadi sehat. Jadi enerjik," ujar pria 52 tahun itu.
 
Serupa dengan ayahnya, Suartawan pernah merasakan hal itu, terutama saat awal ia menari barong ke tengah-tengah publik di pura. "Deg-degan, khawatir. Tapi saat memakai barong, taksu itu muncul," ujarnya.
 
Dalam perkembangannya, mereka tak hanya menarikan barong keket. Tapi juga barong buntut untuk kebutuhan hiburan masyarakat. Berkat Artawa dan Suartawan, kesenian barong di Bali dapat tetap hidup dan lestari.
 
Berkat ketokohan mereka dan keaktifan keduanya dalam melestarikan seni barong, beberapa institusi mengadakan perlombaan-perlombaan. Suartawan kerap menjadi juara 1 dalam kompetisi menari barong. Sehingga ia kini tak diperbolehkan untuk ikut. Demi memberi kesempatan bagi penari lainnya.
 
Saat hendak mempraktikkan beberapa gerakan barong, keduanya berganti pakaian. Tak berapa lama ayah-anak itu datang dengan baju rapi, udeng di kepala serta sarung Bali. Begitulah lazimnya yang dikenakan oleh penari barong.
 
Artawa dan Suartawan bergantian berpose di tiga barong koleksi pribadi mereka. Barong buntut yang berada di tengah, usianya telah 70 tahun. Dimiliki sejak 1953 oleh maestro Kerse. (Heti Palestina Y-Guruh Dimas Nugraha)
 
Indeks: Memahami tahapan menari barong, baca besok...

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: