Dua Generasi Penari Barong Penerus I Made Kerse: Beratnya Memunculkan Taksu (2)

Dua Generasi Penari Barong Penerus I Made Kerse: Beratnya Memunculkan Taksu (2)

Wayan Suartawan (kiri) dan I Nyoman Artawa (kanan), dua generasi pemain barong, penerus maestro I Made Kerse. -Julian Romadhon-

HARIAN DISWAY - Menjadi penari barong, apalagi membawa nama besar maestro I Made Kerse, punya beban tersendiri. Dibutuhkan proses panjang. Termasuk memahami tahapan-tahapan permainan dan penjiwaan. Itu pula yang dilakukan I Nyoman Artawa dan Wayan Suartawan.
 
Di balai kediamannya, di Buruan, Belahbatuh, Bali, Artawa mempertontonkan kemampuannya menari. Tanpa piranti barong, ia memeragakan gerak dan ekspresi.
 
Tangannya menjulur ke atas hingga pundak. Seolah sedang mengenakan pakaian barong. “Ketika saya tertutup barong, ekspresi di dalamnya harus mengikuti gerak tarian. Supaya penjiwaannya lebih maksimal,” ungkapnya.
 
Matanya terbuka lebar, menggeleng ke kanan dan kiri. Teknik ekspresi penari itu disebut nyledet.Seperti ekspresi dalam tari baris, tari khas Bali. “Tari baris merupakan tarian dasar yang harus dikuasai oleh semua penari tradisi Bali. Jika sudah menguasai tari baris, maka menari apa pun akan mudah,” ungkap pria 52 tahun itu.
 
Itu pula yang dilakukan puteranya, Suartawan, cucu I Made Kerse. Generasi ketiga penari barong. “Pun harus paham betul pakem atau pailah menari barong. Seperti pailah baris, pailah topeng dan pailah condong,” ungkapnya.
I Nyoman Artawa di dalam piranti barong miliknya. Memainkan barong butuh stamina dan spiritualitas tinggi. -Julian Romadhon-

 
Pailah baris adalah pakem menari barong dengan iringan gamelan delapan ketukan. Sedangkan pailah topeng, diiringi gamelan 16 ketukan. Terakhir, pailah condong, musiknya cenderung bebas. “Pailah condong, nada dan ketukan atau temponya bisa berubah-ubah. Penarinya harus memahami gerak untuk penyesuaian," ujarnya.
 
Apalagi barong yang ditarikan untuk keperluan sungsungan atau sakral. Penarinya ada dua orang. Yakni pemain punggal atau kepala barong, serta pemain ekor. 
 
Jika tidak kompak dan terbiasa, tarian bisa terlihat tak maksimal. "Kalau barong sungsungan memakai piranti barong ketet yang dimainkan dua orang. Saya beberapa kali masih menari di berbagai pura. Bersama anak saya ini. Saya bagian punggal, anak saya bagian ekor," ungkap Artawa.
 
Saat ber-partner dalam menari, chemistry satu sama lain adalah hal penting. Seperti Artawa dan Suartawan. Karena usia, Artawa harus banyak beristirahat. "Sudah tak mampu lagi seperti dulu. Giliran Suartawan. Kalau tidak ada saya, ia berpasangan dengan kawannya," ujarnya.
 
Suartawan beberapa kali berganti pasangan. "Ya, dengan partner memang harus klik. Bukan masalah bermain bagus atau tidak. Tapi jika sudah sama-sama cocok, tariannya akan lebih baik," sahut Suartawan.
 
Jika ayahnya berhalangan, maka Suartawan bermain barong bersama kawannya, Putu Gede Wirabawa Putra. Ia bagian punggal, Wirabawa bagian ekor. Tarian barong, terbagi dalam tiga gerakan yang harus dikuasai. Yakni papeson, pengawak dan pekaan.
 
Papeson merupakan tarian awal ketika barong masuk ke panggung. Pengawak adalah bagian pertengahan. Sedangkan pekaan merupakan tahapan akhir sebelum memungkasi pementasan. "Tiga bagian itu ada jenis gerakannya. Setiap penari harus memahami tiga hal tersebut," ujar pria 27 tahun itu.
I Nyoman Artawa, generasi kedua penerus I Made Kerse. Ia telah melanglang buana ke berbagai negara di Eropa dan Asia, memainkan barong. -Julian Romadhon-


Apalagi tarian barong sungsungan. Dua penari harus mengenakan piranti yang beratnya 50 kilogram. Menari dengan membawa beban seberat itu harus diimbangi dengan stamina dan kemampuan yang baik. Serta faktor keterbiasaan. "Jangan lupa juga soal faktor mental dan spiritual. Pemain barong yang baik dapat memunculkan taksunya ketika ia memiliki tingkat spiritual yang tinggi," ungkapnya.
 
Sama dengan kakek dan ayahnya, Suartawan berproses cukup panjang untuk mampu menari barong dengan baik. Selain dua generasi itu sebagai gurunya, ia belajar hingga ke daerah Peliatan. Berguru pada Tjokorda Bagus, seniman barong senior. "Belajar tentang penyaluran aura penari ke piranti barong itu butuh waktu," katanya.
 
Proses penari mengenakan piranti barong harus diawali dengan berdoa. Lalu perlahan-lahan memunculkan taksu dari dalam dirinya. "Sebenarnya semua orang punya taksu. Tinggal apakah kita memahami cara memanfaatkannya atau tidak," ujarnya.
 
Hingga kini, Suartawan mengaku masih dalam proses belajar. Meski ia kerap memenangkan berbagai perlombaan barong. Mendapat piala dan piagam yang memenuhi rak yang ada di kediamannya. "jika ada kompetisi lagi, saya tidak diperbolehkan ikut. Alasannya untuk memberi kesempatan pada yang lain. Tapi itu tak membuat saya jumawa. Belajar memang tak pernah selesai," ungkapnya.
 
Suartawan ingin meneruskan jejak kakek dan ayahnya. Membawa barong ke ranah internasional. Kerse dan Artawa telah melanglang buana ke luar negeri, mementaskan barong di Eropa dan Asia. Pementasan barong memiliki banyak lakon atau tema. Dua di antaranya yang paling umum dipentaskan adalah Kunti Sraya dan Kautus Rarung.
 
Seni barong juga kerap dipadukan dengan jenis kesenian lain. Seperti rangda, seni pertunjukan asal Bali. Menurut Suartawan, dua tarian itu sebenarnya tak berhubungan. Tapi lebih bersifat kolaboratif. Untuk kebutuhan pementasan saja.
 
Ayah dan anak dua generasi itu bangga. Telah memotivasi masyarakat Bali untuk melestarikan kesenian barong. Hingga saat ini di Bali para penari barong terus bermunculan. Bahkan dari generasi muda. 
 
Tradisi itu harus terus dijaga. Agar memperkuat karakter Bali. Sebagai daerah yang mewarisi seni budaya leluhur. Betapa pun derasnya arus budaya luar yang masuk, Bali merupakan benteng yang kokoh. Menjaga Pulau Dewata tak kehilangan identitasnya. (Heti Palestina Y-Guruh Dimas Nugraha)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: