Surabaya Cross Culture International Folk Festival (1): Disambut Lagu Surabaya Oh Surabaya

Surabaya Cross Culture International Folk Festival (1): Disambut Lagu Surabaya Oh Surabaya

Para tamu dari negara asing tak mau ketinggalan untuk berfoto dengan Wali Kota Eri Cahyadi.-Sahirol Layeli-

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Surabaya Cross Culture International Folk Festival diikuti 8 negara dan 9 daerah. Pembukaan event di Balai Kota Surabaya pada 17 Juli 2023, menampilkan seni modern dan tradisi. Ditonton masyarakat Surabaya dan perwakilan dari beberapa negara.

Panggung besar terbuka dan sorot lampu menyajikan permainan cahaya. Para laki-laki berbusana batik datang bersama para perempuan berkebaya. Warna dasar busana mereka hitam. Berbaris. Pria di belakang, perempuan di depan.

Seorang pria hadir dan tampil paling depan. Mengenakan jarik dan busana hitam pula. Membelakangi penonton. Ia merupakan konduktor yang memimpin puluhan orang itu. Bersiap menyanyi. Dalam satu hentakan, mengalun lagu Surabaya Oh Surabaya. Surabaya, Surabaya, oh Surabaya, kota kenangan, kota kenangan, takkan terlupa...

Paduan vokal memecah suara. Bersahut-sahutan menciptakan komposisi yang unik. Pembagian leaddan backing yang apik. Mereka tergabung dalam kelompok paduan suara Universitas Surabaya (Ubaya). Tampil pada pembukaan Surabaya Cross Culture International Folk Festival 2023 di Balai Kota.
Penampilan dua penari berkolaborasi dalam Surabaya Cross Culture International Festival. -Sahirol Layeli-

Sebelumnya saat pengunjung datang ke Balai Kota, mereka disambut oleh 18 dadak merak atau Reyog Ponorogo. Setiap dadak merak di bagian atasnya bertuliskan nama negara dan daerah tempat pengunjung tersebut.

Terdapat berbagai komunitas reyog yang terlibat di gelaran Surabaya Cross Culture International Folk Festival. Salah satunya adalah kelompok Singo Tresno Budoyo. "Kami membawa 12 personel. Beberapa di antaranya termasuk saya, memainkan gamelan," ungkap Ahmad Jaenuri, salah seorang member.

Sedangkan kelompok Reyog Ki Ageng Singomulyo membawa dua pemain barong dan satu pemain dadak merak. Ada pula kelompok Singo Mawar Barong Mudho, yang bermarkas di Kapasari, Surabaya. Juga kelompok lain. Mereka semua bergabung dalam satu pementasan.
Tarian hip-hop dari ZR Dance Surabaya, diisi oleh para penari cilik. -Sahirol Layeli-

"Acara ini adalah pembuka dari rangkaian Surabaya Cross Culture International Folk Festival. Melibatkan 8 negara dan 9 daerah," ujar Wiwiek Widayati, Kepala Disporabudpar Surabaya. Kedelapan negara itu adalah: Filipina, Perancis, India, Mexico, Sri Lanka, Uzbekistan, Yunani dan Korea Selatan.

Sedangkan 9 daerah itu adalah: Pangkal Pinang, Jakarta, Flores, Mojokerto, Mengwi, Kendari, Banjarmasin, Makassar, dan Polewali Mandar. Sebelum event tersebut, Pemerintah Kota Surabaya membawa mereka berjalan-jalan. Mengelilingi Surabaya. Diajak mengunjungi Tugu Pahlawan, Sekolah Santa Maria dan berbagai tempat lain.

"Tentu kami ajak pula ke Surabaya Kriya Gallery. Mereka banyak membeli oleh-oleh disana," ungkapnya. Surabaya Cross Culture International Folk Festival juga diramaikan dengan tari remo yang ditarikan secara berkelompok. Yakni oleh Sanggar Tari Putra Bima Respati.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengapresiasi gelaran Surabaya Cross Culture International Folk Festival yang menyajikan kekayaan seni budaya dari Surabaya dan Jawa Timur serta penampilan beberapa kelompok kesenian dari berbagai negara, pada hari sebelumnya.

"Semoga Anda senang berada di Surabaya. Baik makanan, budaya serta segala hal tentang kota ini. Saya harap di kemudian hari Anda akan kembali lagi ke Surabaya," ungkapnya dalam bahasa Inggris.

Ada pula penampilan pencak silat dari Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) cabang Surabaya. Mereka mempertontonkan keahlian beladiri dalam format gerak tunggal. Yakni satu lawan satu. Juga trio. Yakni bertanding dua lawan satu. "IPSI ini terdiri dari gabungan berbagai organisasi pencak silat. Berlatih bersama untuk tampil dalam acara ini," ujar Dandy Vabyan Diharyana, remaja 18 tahun, member IPSI.

Salah seorang pengunjung dari Uzbekistan terlihat antusias. Namanya Mamlakat Ulasheva. Dia mengenakan busana berwarna-warni khas Uzbekistan dan bisa berbahasa Indonesia. "Tentu bisa, meski tak terlalu lancar bicara Bahasa. Karena saya pada 2008 berkuliah di Universitas Padang Panjang. Mengambil jurusan Karawitan," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: