Pabrik Mulut

 Pabrik Mulut

Ilustrasi pabrik mulut.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

SAYA mendapatkan istilah yang pas untuk menggambarkan situasi saat ini: Pabrik mulut. Istilah itu keluar dari seorang bupati di Jawa Timur. Sugiri Sancoko, bupati Ponorogo.

Bagaimana ceritanya tercetus istilah tersebut? Ini gara-gara kami berdiskusi dengannya tentang ketahanan pangan di rumah dinasnya selama hampir sejam. Tengah malam, seusai ia melantik pejabat baru. 

Saya bersama seorang kawan dari Temanggung memang sedang berkunjung ke Bupati Giri. Sebelumnya kami mengunjungi Bupati Magetan Suprastowo. Dengan dua bupati itu, kami juga berdiskusi tentang berbagai potensi daerahnya.

BACA JUGA:Dahlan Iskan Tinjau Monumen Reog Ponorogo: Sampung Bukan Lagi Gaplek dan Gamping

BACA JUGA:Kaca Benggala Ponorogo, Pesan Bupati Sugiri Sancoko di Hari Jadi ke-527

Kang Giri –demikian bupati Ponorogo itu biasa dipanggil– memang menjadikan pertanian sebagai salah satu prioritas pembangunannya. Selain agenda lain seperti membangun kebanggaan baru bagi warganya.

Ia lebih cepat mengenali persoalan di daerahnya karena memang kalahiran asli Ponorogo. Sebelum menjadi bupati, ia pernah menjadi anggota DPRD Jatim dari daerah pemilihan Ponorogo dan sekitarnya. 

Ia lahir dan besar di desanya sampai ia menempuh pendidikan tingkat menengah atas. Baru setelah perguruan tinggi, Kang Giri meninggalkan Ponorogo untuk mengambil studi hingga S-2 di Surabaya. 

”Mayoritas warga di sini petani. Maka, meningkatkan penghasilan mereka berarti meningkatkan perekonomian Ponorogo,” katanya suatu ketika.

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko: Quan Xin Quan Yi

BACA JUGA:Pangdam Nyanyi, Bupati Ponorogo Potong Tumpeng

Ia pun menghidupkan lembaga riset dan pengembangan untuk pertanian. Karena itu, ia punya banyak ide di bidang pertanian dan pengembangannya. Termasuk menginisiasi tentang ternak udang vaname di air tawar.

Tapi, bukan itu yang menarik dari Kang Giri. Ia punya teori tentang merosotnya pertanian di daerahnya. Juga, di tempat-tempat lain yang kehidupan petaninya makin kurang perhatian. Kehidupan petani yang merosot itu berdampak pada politik.

Lho, kok bisa? Menurutnya, rata-rata petani di Ponorogo kini hanya memiliki 1/7 hektare. Artinya, sehektare lahan dimiliki tujuh orang. Jelas, luasan lahan sebesar itu tak menjanjikan untuk hasil pertanian. Panennya tidak hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tapi malah kurang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: