Wow, 2023 jadi Tahun Terpanas dalam Sejarah...!

Wow, 2023 jadi Tahun Terpanas dalam Sejarah...!

WARGA TICAU, Transylvania, Romania, menyegarkan diri di sungai ketika musim panas di pertengahan Agustus.-DANIEL MIHAILESCU-AFP-

HARIAN DISWAY – Tahun ini memang luar biasa. Ya, 2023 diperkirakan menjadi tahun terpanas dalam sejarah manusia. Suhu global selama musim panas di belahan bumi utara juga yang tertinggi sejak suhu udara dicatat secara resmi. Itulah laporan pemantau iklim Uni Eropa pada Rabu, 6 September 2023.

Gelombang panas, kekeringan, dan kebakaran hutan melanda Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara selama tiga bulan terakhir. Sehingga, ada dampak dahsyat pada ekonomi, ekosistem, dan kesehatan manusia.

Menurut badan pemantau iklim itu, suhu rata-rata bumi pada Juni, Juli, dan Agustus adalah 16,77 derajat Celsius. Rekor sebelumnya adalah 16,48 derajat Celsius.

BACA JUGA : Baju-Baju Canggih ala Jepang untuk Melawan Panas, Terlalu Gerah sampai Ingin Bugil

BACA JUGA : Bumi Makin Panas: Suhu 50 Derajat di Maroko, Juli Bulan Terpanas Sepanjang Sejarah di Eropa

"Tiga bulan yang baru kita alami ini adalah yang paling hangat dalam kurun waktu sekitar 120 ribu tahun. Artinya, ini suhu terpanas dalam sejarah manusia," kata Samantha Burgess, wakil direktur badan pemantau iklim Copernicus, kepada Agence France-Presse.

"Kehancuran iklim telah dimulai," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. ’’Dan kehancuran itu jauh lebih cepat daripada upaya penanganan yang kita lakukan,’’ tambahnya.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga memperingatkan bahwa gelombang panas akan membuat dunia kian beracun karena polusi. Sehingga, bisa memperpendek umur manusia dan merusak bentuk kehidupan lainnya.

"Gelombang panas membuat kualitas udara buruk. Efek berantainya bisa mengganggu kesehatan manusia, ekosistem, pertanian, dan bahkan kehidupan sehari-hari kita," kata Kepala WMO Petteri Taalas.

Para ilmuwan pun gelisah. ’’Pada 2023, kita tidak hanya menyaksikan pecahnya rekor iklim. Tetapi justru kehancuran iklim,’’ kata Mark Maslin, profesor klimatologi di University College London.

"Pemanasan global terus berlanjut karena kita belum menghentikan pembakaran bahan bakar fosil. Ini sebenarnya pola pikir yang simpel,’’ ucap Friederike Otto, ilmuwan iklim di Imperial College London.

Temuan badan Copernicus itu diambil dari analisis berbasis komputer menggunakan miliaran pengukuran dari satelit, kapal, pesawat, dan stasiun cuaca di seluruh dunia. Data-data yang diambil dari lingkaran pohon dan es abadi membuat para ilmuwan bisa membandingkan suhu era modern ini dengan suhu sebelum pertengahan abad ke-19. (Doan Widhiandono)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: