Sejarah Revolusi Transportasi Darat di Indonesia

Sejarah Revolusi Transportasi Darat di Indonesia

Ilustrasi Jokowi resmikan transportasi darat berupa kereta cepat WHOOSH.- Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BANGSA Indonesia baru saja meresmikan kereta cepat yang menghubungkan Jakarta–Bandung. 

Saat meresmikan sarana transportasi modern tersebut, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sekalian memberi nama WHOOSH yang merupakan akronim dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat. 

Kehadiran kereta cepat itu telah menghubungkan dua kota, Jakarta dan Bandung, dengan waktu tempuh yang amat singkat. Yakni, sekitar 40 menit saja. Lebih hemat waktu dibandingkan dengan kereta kelas eksekutif biasa yang memiliki waktu tempuh rata-rata sekitar 3 jam 15 menit.

BACA JUGA:Resmikan Kereta Cepat, Jokowi Ganti Kata Handal dalam Akronim WHOOSH Menjadi Hebat

BACA JUGA:Kereta Cepat Whoosh Diresmikan Presiden, Luhut Gratiskan Tiket Hingga Pertengahan Oktober

WHOOSH telah menambah sarana transportasi yang bisa menjadi pilihan masyarakat, selain melalui jalan darat biasa, jalan tol, serta kereta api reguler. 

Masyarakat bisa memilih moda transportasi yang paling tepat sesuai dengan kebutuhan untuk mendukung aktivitas yang akan dilakukan di kota yang terpisah jarak. Pilihan tentu saja bergantung pada waktu serta biaya yang dimiliki untuk menyatukan jarak yang terpisah itu. 

Kehadiran WHOOSH telah menjadi bagian dari sejarah sistem transportasi modern di Indonesia yang dimulai sejak Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels membangun Jalan Raya Pos pada 1808. 

BACA JUGA:Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Sudah Masuk Perencanaan Kemenhub, Ini Dia Rute yang Dilewati

BACA JUGA:Kereta Api Moda Transportasi Massal Paling Rendah Emisi, Menhub Sebut Bisa Atasi Persoalan Iklim

Sejak saat itu beberapa tahapan modernisasi (jaringan) transportasi dilakukan di hampir setiap pergantian abad. Saat Daendels tiba di Jawa pada awal abad ke-19, keberadaan jaringan jalan raya di pulau ini masih sangat minim, dengan kondisi yang sangat buruk pula. 

Semua jalan merupakan jalan tanah dengan lebar yang tidak standar. Beberapa hanya cukup untuk dilewati gerobak yang ditarik hewan. Selebihnya merupakan jalan setapak. 

Daendels menyelesaikan pembangunan jalan, yang kemudian populer dengan sebutan Jalan Raya Pos (Grote Postweg), hanya dalam waktu setahun. 

Hasilnya adalah sebuah jalan raya modern dengan lebar rata-rata 7,5 meter sesuai standar Eropa, yang membentang dari Anyer di ujung barat Jawa sampai di Panarukan di ujung timur Jawa, dengan panjang sekitar 1.000 kilometer. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: