Toleransi dari Peneleh ala Habib Ja'far

Toleransi dari Peneleh ala Habib Ja'far

HABIB JA'FAR (tiga dari kanan) ketika berdiskusi di kafe Lodji Besar di Jalan Makam Peneleh, Sabtu, 7 Oktober 2023.-Sahirol Layeli-Harian Disway-

SURABAYA, HARIAN DISWAY – Surabaya adalah miniatur dari keberagaman Indonesia. Potret indahnya kehidupan masyarakat yang subur oleh toleransi antarsuku, agama, ras, dan antargolongan. 

Itulah yang akan diusung oleh Habib Husein bin Ja'far Al-Hadar. Ustaz kondang generasi milenial itu tengah menggarap program OTW. Keliling kota-kota untuk menapak tilas jejak toleransi dan moderasi beragama masyarakat Indonesia.

Surabaya, kata Habib Ja'far, penuh keragaman etnik. Ada Tionghoa, Arab, Jawa, Bali, hingga Madura. "Semuanya hidup berdampingan. Bukan hanya dalam perdamaian, tetapi juga dalam kolaborasi kebaikan," katanya saat mengunjungi Kampung Peneleh, Sabtu, 7 Oktober 2023.

BACA JUGA : Peneleh Buka Gerbang Wisata Kampung, Digagas Jadi Pelopor Pengembangan Kampung Lain

BACA JUGA : Surabaya ‘Nuit des idées’: Kampung Peneleh Living with History

Habib Ja'far melihat Surabaya sebagai salah satu tempat lahirnya Indonesia. Terutama melalui Kampung Peneleh yang menyimpan berjuta-juta nilai sejarah. Ada banyak situs di kawasan wisata heritage yang baru diluncurkan pada 9 Juli 2023 itu.

Seperti Rumah HOS Tjokroaminoto, Rumah Kelahiran Bung Karno, Makam Peneleh, Langgar Dukur, hingga Sumur Jobong. Dari tempat inilah juga lahir berbagai ideologi yang pernah mengisi era perjuangan kemerdekaan.


SEJARAH PANJANG Makam Eropa Peneleh yang salah satu daya tarik wisata sejarah. Berbagai sosok dari aneka agama dan latar belakang dimakamkan di makam lama tersebut. Tampak Agus Santosa (kanan) dan T.P. Wijoyo berfoto di kompleks makam tersebut.-Sahirol Layeli-Harian Disway-

Oleh karena itu, Habib Ja'far pun mengapresiasi Pemerintah Kota Surabaya. Sebab, telah menjadikan Kampung Peneleh sebagai destinasi wisata sejarah. "Sehingga generasi milenial dan generasi Z jalan-jalan bukan hanya untuk healing. Tetapi, juga sebagai edukasi tentang sejarah dan keragaman indonesia dalam moderasi dan toleransi," tandasnya. (Mohamad Nur Khotib)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: