Menyingkap Situs Petirtaan Lereng Penanggungan (3): Gempeng bukan Hati Hancur

Menyingkap Situs Petirtaan Lereng Penanggungan (3): Gempeng bukan Hati Hancur

Reruntuhan Andesit yang ada di sekitar Jolotundo-Guruh Dimas Nugraha-

Ketika hendak dibangun petirtaan, maka strukturnya perlu diubah. Beberapa bagian bukit harus dipangkas dan diratakan. "Keadaan itu dapat dilihat hingga sekarang. Jolotundo berada di kaki perbukitan batu yang telah diratakan sebagian. Guna menyusun dinding belakang petirtaan," tulisnya.

Maka Agus merasa kata gempeng tidak berhubungan dengan ungkapan hati yang hancur. Tapi berkaitan dengan keadaan nyata. Keadaan dinding bukit batu digempur dan diratakan untuk membuat petirtaan, sehingga dapat mengalirkan air sesuai keinginan para pembuatnya, melalui berbagai jaladwara atau pancuran.

Kata itu pun bisa jadi menunjukkan nama asli situs tersebut, yakni Petirtaan Gempeng. Sedangkan sebutan "Jolotundo" disematkan oleh masyarakat, yang kemudian digunakan para arkeolog dan peneliti lainnya.

Di bawah Petirtaan Jolotundo, di sisi kiri, terdapat balok-balok andesit. Beberapa di antaranya memiliki guratan ornamentik yang rumit. Di bilik kecilnya terdapat aneka bunga dan dupa yang masih menyala.

Dari beberapa balok tersebut, terdapat garis persegi yang menandakan kuncian. Para leluhur memang menggunakan sistem kuncian guna mempererat jalinan antar-andesit.

Dari ukurannya yang besar, mungkin saja Petirtaan Jolotundo dibangun berundak, hingga ke bawah. Sebab, jika situs tersebut berciri Hindu, maka lazimnya memiliki tiga tingkatan. Yakni bhurloka atau alam bawah, bhuwarloka atau alam tengah, serta swarloka atau alam tengah.

Bangunan yang ada saat ini bisa jadi adalah puncaknya, atau swarloka. Terkait peribadatan masa silam, Petirtaan Jolotundo dapat disebut sebagai tempat mensucikan diri. Sebelum beranjak menuju ke bagian tengah hingga puncak Gunung Penanggungan yang dianggap sebagai gunung sakral.

Sebagai tempat suci, diduga kawasan Penanggungan pernah dimanfaatkan sebagai kadewaguruan, atau tempat para resi mengajarkan agama. Juga sebagai tempat bertapa para maharesi atau resi tingkat tinggi.

Kesakralan itu telah terungkap dalam berbagai kitab sastra era Hindu-Buddha. Disebutkan bahwa nama asli gunung tersebut adalah Gunung Pawitra. Artinya gunung yang keramat, sakral, suci.

Konsep tiga tingkatan atau tri loka pun berlaku di Gunung Penanggungan. Dalam buku Arkeologi Pawitra, Agus menjabarkan hal tersebut. Bahwa posisi bhurloka meliputi desa-desa yang ada di lereng bawah Penanggungan. Yakni Desa Seloliman dan Bale Kambang yang terletak di barat. Bahkan diperkirakan mulai dari situs-situs terbawah, seperti situs Kutogirang dan lain-lain.

Sedangkan posisi bhuwarloka diperkirakan berada di garis situs Jolotundo, sampai ke lereng bagian tengah. Lantas posisi swarloka berada di puncak Penanggungan. Di situ tak ada situs. Namun, masih banyak ditemui altar-altar pemujaan pada masa lalu.

Itu menunjukkan bahwa leluhur memiliki kearifan dalam memahami gunung. Berikut cara mereka untuk mendekatkan diri pada Tuhan, dan merawat lingkungan. Selubung misteri Gunung Penanggungan perlahan-lahan tersingkap. (Guruh Dimas Nugraha)

BACA JUGA: Menyingkap Situs Petirtaan Lereng Penanggungan (4): Jalur Kuno Menuju Puncak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: