Menyingkap Situs Petirtaan Lereng Penanggungan (2): Siapa Yang Membangun Jolotundo?

Menyingkap Situs Petirtaan Lereng Penanggungan (2): Siapa Yang Membangun Jolotundo?

Menyingkap situs Petirtaan Lereng Penanggungan (2). Situs Petirtaan Jolotundo yang terdapat dua bilik pemandian di kanan-kiri. Situs itu pun menyimpan beberapa enkripsi petunjuk.-Guruh DN-

MOJOKERTO, HARIAN DISWAY - Situs petirtaan Jolotundo di lereng Gunung Penaggungan cukup populer dan sering dikunjungi oleh masyarakat. Sejauh ini, banyak dugaan dan analisis terkait siapa yang membangun Petirtaan Jolotundo.

Pendapat umum, situs ini dibangun oleh Raja Kahuripan Sri Dharmawangsa Airlangga. Namun, inskripsi relief dan beberapa aspek bangunan di situs Jolotundo tak mendukung pendapat itu.

Misalnya di bilik laki-laki. Di situ terdapat jaladwara atau pancuran air dengan lubang yang besar. Sebenarnya, di bilik ini jaladwaranya berbentuk kepala naga. Namun, rahangnya telah terpotong.

BACA JUGA:Menyingkap Situs Petirtaan di Lereng Penanggungan (1): Samudera Mantana di Jolotundo

Sedangkan di bilik perempuan, lubang pancuran airnya terlihat lebar. Tak ada jaladwara, karena telah hilang.

Tapi dari reliefnya, masih terdapat guratan yang berbentuk sayap garuda. Beberapa menyimpulkan bahwa bilik perempuan disebut bilik garuda. Bilik laki-laki disebut naga.


Menyingkap situs Petirtaan Lereng Penanggungan (2). Para laki-laki mandi dan mengambil air di bilik laki-laki, di Petirtaan Jolotundo, Trawas, Mojokerto.-Guruh DN-

Ornamen Garuda di situs Petirtaan Jolotundo menunjukkan kecenderungan akan aliran Waisnawa (wisnu-isme) lantaran Garuda dikenal sebagai Vahana atau kendaraan tunggangan dari Dewa Wisnu. 

Garuda juga dikenal sebagai atribut yang sangat erat kaitannya dengan Wisnu. 

Apalagi Raja Airlangga sendiri dikenal sebagai Raja yang berpatronasi pada Wisnu. Terlihat dari simbol-simbol prasasti yang dibangun pada masa pemerintahaannya yang kerap menyertakan gambar garuda. 

Namun ornamen Naga dan Garuda tidak serta membuat semua yakin bahwa petirtaan Jolotundo dibangun pada masa Airlangga. Beberapa orang menyanggah kesimpulan tersebut. 

BACA JUGA:Menyingkap Situs Petirtaan di Lereng Penanggungan (3): Gempeng bukan Hati Hancur

Termasuk Asisi Suhariyanto, jurnalis sejarah, pengampu akun YouTube ASISIchannel. Ia melandaskan dari berbagai penelitian pula.

"Enkripsi di badan candi menunjukkan bahwa petirtaan itu dibangun jauh sebelum pemerintahan Airlangga," ungkapnya.

Ia lantas menginformasikan keberadaan enkripsi atau aksara tersebut. Yakni ada di sebelah kiri pancuran utama. Huruf Jawa Kuno, bertuliskan 899 Saka, atau 977 Masehi.


Menyingkap situs Petirtaan Lereng Penanggungan (2). Para pengunjung perempuan usai mandi di bilik perempuan, di Petirtaan Jolotundo. Terdapat dua bilik pemandian di situs tersebut. Yakni bilik garuda (untuk perempuan) dan bilik naga (laki-laki).-Ahmad Rijaluddin E-

Airlangga diperkirakan lahir di Bali pada 990, dan memerintah Kahuripan pada 1019-1043. Tak ada dokumen sejarah mana pun yang menyebut bahwa Airlangga pernah berkunjung ke petirtaan tersebut.

BACA JUGA:Menyingkap Situs Petirtaan di Lereng Penanggungan (4): Jalur Kuno Menuju Puncak

"Analisa awal dikeluarkan oleh NJ Krom dan WF Stutterheim. Keduanya menyebut bahwa petirtaan itu sebagai tempat pendharmaan Airlangga. Tapi itu dibantah. Sebab, situs tersebut dibangun sebelum Airlangga," ujar pria 49 tahun itu.

Sebenarnya terdapat beberapa enkripsi lagi di badan candi. Di bagian kanan, terdapat aksara bertuliskan "Gempeng" atau runtuh.

Sedangkan di bagian tepi bawah pancuran, tersemat enkripsi yang telah samar. Tapi masih terbaca: Udayana.

Nama Udayana dikenal sebagai ayah Airlangga. Seorang raja Bali yang datang ke Jawa dan menikahi Gunapriya Dharmapatni, cucu Pu Sindok, penguasa Kerajaan Medang. Dari pernikahan keduanya, lahir Airlangga.


Menyingkap situs Petirtaan Lereng Penanggungan (2). Enkripsi angka tahun 877 Saka atau 977 Masehi di dinding situs Petirtaan Jolotundo. Bukti bahwa situs itu tidak dibangun pada masa Airlangga.-Ahmad Rijaluddin E-

Rakai Hino Pu Sindok dikenal dalam sejarah sebagai tokoh yang memindah pusat kekuasaan kerajaan Medang Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Pun Sindok lantas berkuasa dengan gelar Sri Isyanawikramatunggadewa. Kelak keturunannya dikenal dengan Wangsa Isyana.  

Aksara Udayana lantas memunculkan hipotesis bahwa Petirtaan Jolotundo dibangun oleh Udayana. Bahkan dianggap sebagai tempat meditasi raja tersebut. Namun, Asisi meragukannya.

"Belum tentu juga. Meski ada aksara "Udayana" di badan candi, itu bukan berarti merujuk pada Raja Udayana dari Bali," ujar Asisi.

BACA JUGA: Menyingkap Petirtaan Lereng Penanggungan (5): Jolotundo di Barat, Belahan di Timur

Menurutnya, dalam berbagai prasasti yang dikeluarkan Udayana, nama "Gunapriya Dharmapatni" selalu muncul. Bahkan di paragraf atau kalimat awal.

Sedangkan dalam enkripsi Petirtaan Jolotundo, nama permaisuri itu tak ada. "Tidak mungkin pemahat sampai berani tidak menuliskan nama Dharmapatni. Karena dia merupakan trah keturunan Raja Jawa. Maka, jika enkripsi itu mengacu pada Raja Udayana, nama permaisurinya pasti ada," terangnya.

Ada pula pendapat bahwa petirtaan tersebut digunakan Udayana untuk menyusun kekuatan, demi merebut Bali. Pendapat itu berlandaskan pada aksara "Gempeng" atau hancur.

Diyakini Udayana pergi ke Jawa, karena Bali sedang porak-poranda atau hancur-lebur.  Tapi itu pun diragukan. Karena, tak ada catatan yang menunjukkan bukti pendapat tersebut. Apalagi, Bali saat itu diyakini sudah masuk ke dalam mandala atau wilayah kekuasaan Medang.

Lantas, Udayana siapa yang dimaksud dalam relief tersebut? Asisi menyampaikan bahwa "Udayana" adalah petunjuk tentang relief di atas nama tersebut, yang sekarang berada di Museum Nasional Jakarta.

Itu bukan mengacu pada nama orang. Melainkan judul kisah. Yakni cerita Dewi Mrgayawati dalam Kathasaritsagara.

Dalam kisah tersebut, Dewi Mrgayawati menunggang garuda menuju puncak bukit Udayaparwa. Di sana, dia melahirkan puteranya, yang dinamakan Udayana.

Bukti pendapat itu adalah reliefnya. "Memang potongan relief yang ada di Museum Nasional menceritakan kisah tersebut. Jadi, menurut saya 'Udayana' itu judul cerita," terangnya.

Pendapat Asisi tersebut didasarkan pada buku Arkeologi Pawitra karya Agus Aris Munandar. Jika situs bukan dibangun pada masa Udayana dan Airlangga, lantas siapa pembangunnya?

Saat menilik angka tahun, dalam periode itu Kerajaan Medang dipimpin oleh Sri Isyana Tunggawijaya hingga diturunkan pada puteranya, Sri Makutawangsawardhana. Bagi Asisi, kemungkinan terkuat, petirtaan tersebut dibangun oleh Makutawangsawardhana.

"Dasarnya adalah Prasasti Pucangan. Di situ disebut bahwa Raja Makutawangsawardhana dipuji bagai permata dunia. Mengalirkan kesejahteraan bagi semua mahluk. Seperti air Jolotundo yang senantiasa mengalir," ungkapnya.

Raja Makutawangsawardhana juga dipuja bagai Wisnu yang mengendarai garuda. Cocok dengan gambaran patung dewa Wisnu yang tersemat di Prabamandala Petirtaan Jolotundo, yang arca tersebut telah raib.

Tapi bagaimana pun, apa yang diungkapkan Asisi hanya analisa. Kebenarannya perlu diteliti lebih lanjut. (Guruh Dimas Nugraha)

BACA JUGA: Menyingkap Situs Petirtaan Lereng Penanggungan (3): Gempeng bukan Hati Hancur

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: