The Other Side of Umrah (1): Bersikap Ikhlas Ternyata Tidak Mudah

The Other Side of Umrah (1): Bersikap Ikhlas Ternyata Tidak Mudah

Ilustrasi umrah. Prof Bagong Suyanto dan istri, Prof Rahma Sugihartati, bersama rombongan Unair berangkat umrah ke Tanah Suci.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Yakni, keikhlasan, kesabaran, dan kesediaan untuk mengakui semua kekerdilan dan kesalahan di hadapan Allah SWT. Tidak ada jamaah umrah yang boleh berlaku sombong, kasar, dan egois. Sebab, mereka adalah tamu-tamu Allah.  

Ikhlas. Kata ini paling sering saya dengar dari teman-teman dekan maupun dosen Universitas Airlangga yang sebelumnya pernah umrah. Sebagian dosen bahkan sudah beberapa kali melaksanakan umrah. Saya pun berusaha menata hati dan mempersiapkan diri akan selalu ikhlas selama menjalani umrah. Apakah mudah untuk selalu ikhlas? Ternyata tidak. 

Cobaan yang saya alami di perjalanan awal keberangkatan umrah adalah ujian bagaimana mempersiapkan hati yang benar-benar ikhlas. Ceritanya seperti ini. Sebelum berangkat, saya sudah mengirim pesan ke pihak agen travel soal tempat duduk. 


ROMBONGAN jamaah dari Universitas Airlangga bersiap berangkat umrah ke Tanah Suci. -Bagong Suyanto untuk HARIAN DISWAY-

Saya sudah pesan agar tempat duduk saya di bangku sisi jalan dan bersebelahan dengan istri. Saya membayangkan perjalanan selama 11 jam, tentu tidak nyaman jika saya tidak duduk bersebelahan dengan istri. Namun, ketika naik pesawat, apa yang terjadi? Tempat duduk saya dan istri ternyata terpisah.

 

Bukan hanya saya, sejumlah jamaah lain rombongan saya ternyata juga mengalami hal yang sama. Sejenak saya pun lupa kalau sedang berangkat umrah. Saya merasa seperti turis yang sedang berwisata dan selalu merasa berhak menuntut pelayanan terbaik. 

Bukankah saya sudah pesan bahwa saya minta duduk saya bersebelahan dengan istri saya. Kenapa malah tempat duduk kami dibuat terpisah? Saya pun seketika protes ke agen travel. 

Ego dan kepribadian yang dibentuk dari latar belakang ilmu sosial membuat saya berpikir berhak protes. Sekitar lima menit perasaan saya berkecamuk. Resah, karena merasa pesan saya sama sekali tidak digubris. Saya merasa sebagai konsumen yang telah membayar, saya berhak mendapatkan  kursi sesuai apa yang saya pesan. 

Untungnya, hal tersebut tidak berlangsung lama. Pelan-pelan hati saya mulai dingin. Saya pun kembali tersadarkan kalau melakukan ibadah umrah, emosi harus terkendali dan kesabaran harus yang diutamakan. 

Istri saya membisiki saya agar tidak mempersoalkan dan menyarankan agar tempat duduk rombongan dari Universitas Airlangga ditata sendiri. Kenapa saya harus ribut ketika teman lain yang terpisah duduknya dengan pasangannya ternyata tidak semua protes. Sebagian ada yang kecewa, tetapi sebagian yang lain biasa-biasa saja.

Dengan kepala dingin, anggota rombongan kami yang terpisah dengan pasangannya sedikit demi sedikit bisa ditata tempat duduknya dan akhirnya bisa duduk bersebelahan dengan pasangannya. Saya pun bisa pindah tempat duduk dan bersebelahan dengan istri saya. 

Ada satu-dua teman yang duduknya tetap terpisah dengan pasangannya. Namun, mereka santai-santai saja dan tidak mempersoalkan.

Saya yang melihat itu kemudian jadi malu sendiri. Kenapa saya harus protes jika ternyata persoalan tersebut bisa dipecahkan dengan santai tanpa harus terbawa emosi. Saya yang semula merasa siap dan mampu bersikap ikhlas benar-benar mendapatkan pelajaran yang berharga. Sungguh tidak mudah menata hati agar selalu bisa bersikap ikhlas. 

Ini adalah cobaan sekaligus tantangan pertama yang saya alami ketika melaksanakan ibadah umrah. Membuang ego dan mau menerima segala sesuatu dengan rasa syukur adalah pelajaran yang benar-benar perlu saya resapi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: