Perang Persepsi Pejabat Tinggi di Kasus Sopir Microsleep

Perang Persepsi Pejabat Tinggi di Kasus Sopir Microsleep

ILUSTRASI perang persepsi pejabat tinggi di kasus sopir microsleep yang mengakibatkan kecelakaan yang menewaskan 12 orang di tol Japek. Mereka dapat santunan meski naik travel ilegal/gelap. -Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Ini perang persepsi. Kecelakaan menewaskan 12 orang di tol Japek (Jakarta–Cikampek) Km 58 pada Senin, 8 April 2024. Mereka adalah sopir, kernet, dan penumpang mobil travel gelap (ilegal). Lalu, semua korban tewas dan luka disantuni Jasa Raharja sebagaimana korban travel resmi. Maka, Menhub Budi Karya Sumadi meminta polisi menindak tegas travel gelap. Jadi seru.

PERANG soal ”kegelapan” travel. Antara, perlu didukung atau dimusuhi. 

Kalau didukung, korban kecelakaan travel gelap pun perlu diberi santunan, Seperti sudah dilakukan Jasa Raharja terhadap 12 korban tewas penumpang mobil Gran Max yang travel gelap itu. 

Sebaliknya, kalau dimusuhi, perlu dirazia polisi dan ditindak tegas (mungkin maksud tujuannya)  tidak terjadi kecelakaan akibat travel gelap (lagi). Seperti permintaan Menteri Budi Karya kepada polisi itu.

BACA JUGA: Kisah Ukar Karmana, Sopir Microsleep yang Kecelakaan di Tol Japek

Padahal, perang kegelapan travel itu fokusnya pada kecelakaan maut yang menewaskan semua penumpang dan sopir Gran Max yang ilegal itu. Fokusnya pada 12 orang mati, yang keluarga mereka kini pasti sangat sedih.

Luar biasa unik para petinggi instansi di Indonesia ini. Dalam kedukaan para korban kecelakaan, para pejabat itu bicara soal legal dan ilegal perusahaan yang mengangkut para penumpang. Seolah, kalau perusahaan angkutannya legal, pasti tidak bakal terjadi kecelakaan sehingga penumpang mati.

Perang persepsi antar pejabat tinggi instansi ini sungguh terjadi. Bukan hoaks. Juga, bukan rekayasa peristiwa. Asli terjadi. 

BACA JUGA: Sopir Microsleep Sangat Bahaya

Seperti diberitakan, kecelakaan itu terjadi di lokasi dan tanggal tersebut. Secara ringkas begini: mobil Gran Max dalam kecepatan di atas 100 kilometer per jam (hasil investigasi KNKT). Mendadak menepi. 

Langsung dihantam bus Primajasa dari belakang. Gran Max terbakar hebat. Semua penumpang dan sopir hangus total. Sedetik kemudian, belakang bus Primajasa ditabrak mobil Terios yang juga terbakar.

Semua korban tewas (12 orang) penumpang Gran Max. Korban luka parah adalah penumpang Terios. Korban luka ringan penumpang bus. Semuanya diberi uang santunan oleh Jasa Raharja. Tidak pilih kasih.

BACA JUGA: Microsleep, Kondisi yang Dialami Supir Vanessa Angel Saat Kecelakaan

Pasca kecelakaan, Direktur Utama PT Jasa Raharja Rivan Achmad Purwantono menjenguk para korban di RSUD Karawang, Jabar. Ia menjenguk bersama Menko PMK Muhadjir Effendy. Juga, Kakorlantas Polri Irjen Aan Suhanan dan Kapolda Jabar Irjen Akhmad Wiyagus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: