Denny JA: Puisi Esai Jadi Terobosan Diplomasi Lewat Sastra
Denny JA saat beraudiensi dengan ketua menteri, pemimpin politik tertinggi di wilayah Sabah. Yakni Datuk Hajiji Noor.--
“Saya meyakini tidak lama lagi semakin banyak orang menulis memanfaatkan AI,” ujar Denny yang sering menggunakan AI untuk menulis dan melukis.
BACA JUGA: LSI Denny JA dan Kreativitas Mengolok Nalar
Denny mengatakan telah menghasilkan 300 lukisan dengan bantuan AI bergaya Picasso, atau Van Gogh, atau lainnya sesuai dengan arahan pelukisnya ke AI.
Penulis pun bisa menulis dengan gaya Margaret Atwood, Ernest Hemingway, T.S. Eliot, Jalaluddin Rumi, dan gaya penulis lain yang sudah disuntikkan ke aplikasi AI.
Setelah AI semakin banyak dipakai, timbul pertanyaan besar: siapakah pengarang itu nanti? Ketika menulis menggunakan AI, 80 persen adalah karya AI. Sisanya baru diperdalam oleh manusia. Sama dengan melukis pakai AI.
BACA JUGA: Kembangkan Teknologi Artificial Intelligence Kesehatan, UBAYA-Nexmedis Kerja Sama Lebih Intens
Sebanyak 80 persen lukisan dibuat oleh AI berdasar instruksi yang diberikan. Sisanya yang 20 persen adalah bagian pelukisnya untuk memperdalam filosofinya, mengubah komposisi, dan memberi sentuhan akhir agar emosi pelukis lebih kelihatan di lukisan.
Jadi, pertama, dari penggunaan AI, kita memahami siapa yang disebut pengarang. Si penulis atau pelukis tetap adalah seorang kreator yang memberikan instruksi dan sentuhan akhir dari sebuah karya.
Kedua, karya yang dibuat dengan AI akan over supply sehingga mempengaruhi nilai ekonominya. Satu novel bergaya Atwood akan selesai satu hari saja.
BACA JUGA: Wamenkominfo Nezar Patria Dorong Dunia Kedokteran Adopsi Teknologi Artificial Intelligence (AI)
“Kita akan kaget sekali menghadapi dunia baru. Begitu banyak buku dengan berbagai, aneka informasinya, tapi nilai ekonominya rendah sekali. Karena makin banyak pilihan dan makin banyak orang yang menawarkan satu cara-cara yang murah.
Lalu bagaimana perkembangan puisi esai setelah ada AI? Menurut Denny, berdasar Discover Media, mereka yang membaca sastra akan memiliki rasa empati yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak membaca karya sastra.
Yang membaca sastra lebih bersedia menjadi sukarelawan, lebih lebih terbuka untuk solidaritas sosial. Jadi ada efek yang besar dari sastra kepada budi pekerti, kepada moralitas manusia.
Di saat yang sama, puisi makin tidak dibaca. Sebab inovasi dalam puisi sudah sangat jarang terjadi. Karena itu, itu puisi esai datang sebagai ikhtiar inovasi, membawa pesan isu-isu yang berhubungan dengan hak asasi manusia, disampaikan dalam bahasa yang mudah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: