Kerusuhan Agustus 2025 dan Teori Sosial Baru yang Menjelaskannya

Kerusuhan Agustus 2025 dan Teori Sosial Baru yang Menjelaskannya

Menurut Denny JA, sejarah tidak berubah ketika rakyat mulai marah. Sejarah berubah ketika kita akhirnya memahami mengapa mereka marah. --Istimewa

BACA JUGA: Riot Control Simulator, Game Simulasi Jadi Polisi di Tengah Kerusuhan yang Penuh Dilema

Di era digital, notifikasi dapat menggantikan pamflet revolusi. Variabel keempat adalah Trigger and Provocation. Kemarahan memerlukan simbol. Dalam kasus Agustus 2025, Affan menjadi simbol itu.

Setelah pemicu muncul, provokator dan disinformasi dapat membelokkan protes damai menjadi kerusuhan. Teori ini membedakan secara tegas antara akar masalah, pemicu, dan distorsi.

Variabel kelima adalah Broken Social Contract. Kerusuhan meledak ketika rakyat merasa negara tidak lagi memenuhi janji dasarnya. Negara dianggap gagal melindungi, gagal memberi keadilan, gagal membuka peluang, dan gagal mendengar suara masyarakat.

BACA JUGA: 22 Massa Positif Narkoba saat Kerusuhan DPR 25 Agustus, Polisi Ungkap Jenis yang Dipakai

Pada titik itu, kontrak sosial kehilangan legitimasi moralnya. Mengapa teori ini lebih kuat? Karena teori ini bersifat integratif. Teori Relative Deprivation menjelaskan rasa tidak adil. Resource Mobilization menjelaskan organisasi. Networked Protest menjelaskan jaringan digital.

Masing-masing benar. Namun, masing-masing hanya menjelaskan sebagian gambar. Teori Kerusuhan Era Digital menyatukan seluruh elemen penting dalam satu kerangka yang koheren. Ia menjelaskan akar ekonomi yang menciptakan kemarahan.

Ia mengidentifikasi lahirnya kelas rentan digital sebagai aktor baru sejarah. Ia menjelaskan peran media sosial sebagai mesin amplifikasi emosi. Ia membedakan pemicu dari akar masalah.

BACA JUGA: Kerusuhan Pecah Usai Kematian Ojol, DPRD Makassar Dibakar, 4 Orang Tewas

Ia menjelaskan bagaimana provokasi mengubah arah gerakan. Dan yang terpenting, ia menawarkan dimensi normatif berupa kebutuhan membangun kembali kontrak sosial yang rusak.

Teori ini tidak hanya menjelaskan mengapa kerusuhan terjadi. Ia juga menjelaskan mengapa kerusuhan menyebar. Ia tidak hanya menjelaskan siapa yang marah. Ia juga menjelaskan mengapa mereka marah. Ia tidak hanya menjelaskan ledakan.

Ia juga menunjukkan jalan keluar. Dalam rumusan singkat: Digital Riot = Economic Grievance + Digitally Vulnerable Class + Social Media Amplification + Trigger and Provocation + Broken Social Contract.

BACA JUGA: Kerusuhan Demo di Jakarta, 7 Halte TransJakarta Rusak dan Terbakar

Kelima variabel ini tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan dalam sebuah siklus. Keresahan ekonomi menumpuk di kelas rentan digital, diperbesar algoritma, dipicu simbol tragis, lalu meledak ketika kepercayaan terhadap negara runtuh.

Sedikit perlu catatan. Ada pula isu lain memperkaya teori ini. Yaitu Digital State Counter-Response. Di era ini, negara tidak pasif; mereka menggunakan cyber troops dan sensor algoritma untuk meredam kerusuhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: