Kerusuhan Agustus 2025 dan Teori Sosial Baru yang Menjelaskannya

Kerusuhan Agustus 2025 dan Teori Sosial Baru yang Menjelaskannya

Menurut Denny JA, sejarah tidak berubah ketika rakyat mulai marah. Sejarah berubah ketika kita akhirnya memahami mengapa mereka marah. --Istimewa

Di sini teori mobilisasi sumber daya mulai kehilangan daya jelaskannya. Teori ketiga adalah Networked Protest Theory yang banyak dikembangkan oleh Manuel Castells dan Zeynep Tufekci. Teori ini paling dekat dengan realitas abad ke-21.

Castells menunjukkan bagaimana internet menciptakan jaringan kemarahan dan harapan. Tufekci menjelaskan bagaimana media sosial memungkinkan mobilisasi cepat dalam skala besar.

BACA JUGA: Kemenlu Pastikan WNI di Nepal Aman Usai Kerusuhan Demo

Arab Spring, Occupy Wall Street, Black Lives Matter, dan berbagai gerakan digital lain dijelaskan dengan sangat baik oleh teori ini. Namun, teori ini juga belum cukup. Ia menjelaskan bagaimana protes menyebar.

Ia belum sepenuhnya menjelaskan mengapa sebagian masyarakat lebih mudah tersulut dibanding kelompok lain. Ia menjelaskan jaringan komunikasi. Ia belum memberi tempat yang memadai bagi kelas rentan digital sebagai aktor utama.

Ia menjelaskan bagaimana kemarahan bergerak. Ia belum menjelaskan mengapa kemarahan itu begitu dalam. Untuk memahami lebih jauh keterbatasan teori lama dan peluang teori baru, dua buku menjadi sangat penting.

BACA JUGA: Pemprov Butuh Rp 11 Miliar, Pemkot Butuh Rp 4,3 Miliar Untuk Perbaikan Fasum Usai Kerusuhan

Di titik ini, tampak bahwa kerusuhan Agustus 2025 bukan sekadar anomali, melainkan ujian serius bagi kelengkapan teori-teori klasik. Ia menyingkap celah yang selama ini tersembunyi dalam kacamata ilmu sosial modern.

Buku pertama adalah Why Men Rebel karya Ted Robert Gurr, diterbitkan Princeton University Press pada 1970. Buku ini memperkenalkan konsep Relative Deprivation yang kemudian menjadi salah satu teori paling berpengaruh dalam studi konflik sosial.

Gurr menunjukkan bahwa akar utama pemberontakan bukanlah kemiskinan absolut, melainkan perasaan ketidakadilan. Ketika harapan masyarakat meningkat lebih cepat daripada kemampuan sistem memenuhi harapan tersebut, lahirlah frustrasi kolektif.

BACA JUGA: Menghitung Biaya Kerusuhan

Frustrasi itu kemudian berubah menjadi kemarahan politik. Gurr membedakan berbagai bentuk deprivasi dan menunjukkan bagaimana krisis ekonomi, ketimpangan sosial, serta kegagalan negara menciptakan kondisi yang subur bagi pemberontakan. 

Kontribusi terbesar buku ini adalah menggeser fokus dari faktor material semata menuju persepsi psikologis masyarakat. Namun, buku ini ditulis sebelum era internet. Ia tidak membahas peran media sosial, algoritma, atau kelas pekerja digital. 

Karena itu, meskipun tetap relevan, teori ini membutuhkan perluasan agar mampu menjelaskan kerusuhan yang terjadi dalam masyarakat yang terkoneksi secara digital. Buku kedua adalah Networks of Outrage and Hope karya Manuel Castells, diterbitkan Polity Press pada 2012.

BACA JUGA: Polisi Dalami Dalang di Balik Kerusuhan Demo Surabaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: