Kerusuhan Agustus 2025 dan Teori Sosial Baru yang Menjelaskannya

Kerusuhan Agustus 2025 dan Teori Sosial Baru yang Menjelaskannya

Menurut Denny JA, sejarah tidak berubah ketika rakyat mulai marah. Sejarah berubah ketika kita akhirnya memahami mengapa mereka marah. --Istimewa

Castells menjelaskan bagaimana internet telah mengubah wajah gerakan sosial modern. Dalam dunia yang terhubung oleh jaringan digital, individu tidak lagi membutuhkan organisasi formal untuk bergerak bersama. 

Kemarahan dapat menyebar melalui media sosial. Solidaritas dapat dibangun melalui komunikasi horizontal. Arab Spring, gerakan di Spanyol, Occupy Wall Street, dan berbagai mobilisasi digital lainnya menunjukkan bahwa kekuasaan komunikasi kini menjadi faktor politik yang sangat menentukan. 

Castells memperlihatkan bahwa media sosial bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang baru bagi pembentukan identitas kolektif. Namun, fokus utama buku ini berada pada jaringan komunikasi. Ia tidak terlalu menekankan kondisi ekonomi, kerentanan kelas pekerja digital, ataupun proses distorsi yang dilakukan provokator.

BACA JUGA: Kerusuhan di Jakarta saat Demo Capai Kerugian Rp180 Miliar, 38 Orang Ditahan 

Karena itu, teori jaringan Castells sangat kuat menjelaskan penyebaran protes, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan mengapa protes tertentu berubah menjadi kerusuhan yang destruktif.

Dengan demikian, kita berhadapan dengan lanskap teori yang kaya tetapi terfragmentasi. Masing-masing menawarkan lensa tajam, tapi belum membentuk panorama utuh tentang bagaimana ekonomi, teknologi, dan emosi berinteraksi dalam kerusuhan digital kontemporer.

Di titik inilah saya menemukan kekosongan yang menarik. Teori lama menjelaskan sebagian peristiwa dengan baik, tetapi tak satu pun mampu menjelaskan keseluruhan rantai sebab-akibat yang terjadi pada Agustus 2025.

BACA JUGA: 33 Tersangka Kerusuhan Surabaya, Polisi Tegaskan Tak Ada Kompromi

Yang hilang bukan sekadar satu variabel. Yang hilang adalah cara melihat hubungan antara ekonomi, algoritma, emosi, dan legitimasi negara sebagai satu sistem yang saling memperkuat. Dari refleksi terhadap berbagai teori itu, saya mengajukan sebuah teori sosial baru.

Saya menyebutnya sebagai Teori Kerusuhan Era Digital. Teori ini dibangun di atas lima variabel utama. Variabel pertama adalah Economic Grievance atau keresahan ekonomi. Setiap kerusuhan membutuhkan bahan bakar. Bahan bakar itu adalah ketidakadilan ekonomi yang dirasakan rakyat.

Harga pangan yang meningkat, lapangan kerja yang menyempit, daya beli yang menurun, dan masa depan yang terasa makin tidak pasti menciptakan akumulasi kemarahan. Ekonomi bukan sekadar statistik. Ia adalah pengalaman sehari-hari di meja makan keluarga. 

BACA JUGA: Polisi Tetapkan 38 Tersangka Kerusuhan DPR, Ungkap Peran hingga Barang Bukti

Variabel kedua adalah Digitally Vulnerable Class (DVC). Inilah kontribusi paling orisinal teori ini. Saya menyebutnya kelas rentan digital. Mereka adalah ojol, kurir, freelancer, pekerja platform, content creator kecil, dan berbagai pekerja informal digital. 

Mereka hidup dalam tiga kerentanan sekaligus: kerentanan ekonomi, kerentanan algoritmik, dan kerentanan harapan. Mereka menjadi subjek utama kerusuhan digital abad ke-21.

Variabel ketiga adalah Social Media Amplification. Media sosial berfungsi sebagai pengganda emosi kolektif. Ia mengubah keluhan lokal menjadi kemarahan nasional. Ia mempercepat solidaritas sekaligus memperbesar kepanikan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: