Pembunuh Cenderung Bohong saat Diinterogasi

Pembunuh Cenderung Bohong saat Diinterogasi

ILUSTRASI Pembunuh Cenderung Bohong saat Diinterogasi, -Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Secara fisiologis, pelepasan adrenalin dan glukokortikoid menyebabkan peningkatan tekanan darah, denyut jantung, pernapasan, dan suhu tubuh. Itu menghasilkan wajah memerah atau pucat, berkeringat, dan energi gugup. 

Respons emosional negatif yang kuat menyebabkan tersangka menghindari pandangan, penurunan orientasi tubuh, dan berkurangnya kemampuan visual. Itulah isyarat emosional.

Isyarat emosional terbagi dua kategori: Berbohong tentang perasaan dan perasaan tentang kebohongan.

Dalam kasus pertama, orang berbohong tentang apa yang mereka rasakan. Misalnya, penjahat yang takut selama wawancara mungkin tertawa atau menutupi wajah mereka untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. 

Dalam kasus kedua, tersangka berbohong sering kali menimbulkan perasaan bersalah, cemas, atau takut. Tapi, tidak terkait rasa bersalah atas tindakan pembunuhan, tetapi rasa bersalah karena sudah berbohong.

Ada tiga emosi terkait kebohongan: 1) takut, 2) bersalah, dan 3) senang.

Ketakutan adalah reaksi terhadap ancaman bahaya fisik atau psikologis yang disebabkan kebohongan berisiko tinggi. Respons tubuh adalah menghasilkan perubahan fisiologis, berupa ketegangan otot dan peningkatan suhu tubuh, pernapasan, dan detak jantung. 

Tingkat ketakutan bergantung pada keyakinan orang tersebut terhadap keterampilan berbohong mereka dan taruhannya. 

Rasa bersalah tersangka pada kebohongan yang ia bikin. Bukan pada tindakan pembunuhan yang sudah ia lakukan. Ia merasa bersalah sudah berbohong. Sebab, sebagian besar orang Amerika Serikat (AS) sejak kecil diajari jujur. Kebohongan adalah dosa besar.

Rasa senang, sebab tersangka berbohong merasakan kenikmatan menipu interogator. Ia senang. Orang yang kesenangan menipu menunjukkan sejumlah emosi: Penghinaan (terhadap interogator), kesenangan, atau kegembiraan. 

Tapi, itu bukan pedoman utama. Ada variasi lain. 

Misalnya, tersangka yang diwawancarai terkait pembunuhan pasangannya. Mungkin menunjukkan tanda-tanda ketakutan dan rasa bersalah saat ditanya keberadaannya saat kejahatan terjadi. 

Meski pelaku tidak bersalah (membunuh pasangan), ekspresi emosi yang kuat dapat terjadi karena orang tersebut sedang selingkuh saat pembunuhan terjadi. 

Ekspresi ketakutan akan ketahuan selingkuh dan merasa bersalah atas perselingkuhan. Tetapi, tidak terkait dengan pembunuhan.

Maka, penyidik harus memberikan pertanyaan terbuka, memperhatikan respons subjek dengan saksama, memantau pemicu emosional, dan membandingkan jawaban orang tersebut dengan fakta kasus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: