Pembunuh Cenderung Bohong saat Diinterogasi

ILUSTRASI Pembunuh Cenderung Bohong saat Diinterogasi, -Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Kedua, faktor kognitif. Berbohong membutuhkan kecerdasan dan ketelitian ekstra. Tersangka harus merancang konstruksi cerita yang logis dan teliti. Ia juga harus sangat hafal konstruksi cerita tersebut. Sebab, sewaktu-waktu penyidik akan bertanya ulang pada suatu topik dalam bentuk pertanyaan yang berbeda dengan pertanyaan sebelumnya.
Penjahat tidak akan merancang konstruksi cerita yang panjang. Sebab, ia harus konsisten mempertahankan konstruksi cerita yang ia rancang. Ia bisa lupa pada detail cerita jika ditanya ulang penyidik.
Penjahat menyukai menumpangi kebenaran dengan kebohongan. Artinya, struktur ceritanya kebenaran. Tapi, ditumpangi kebohongan. Misalnya, konstruksi ceritanya adalah kebenaran. Tapi, keterangan waktunya bohong.
Model tersebut lebih gampang buat penjahat. Sebab, setiap orang menceritakan kebenaran jauh lebih gampang daripada merancang struktur cerita bohong.
Ketiga, faktor pengendalian atau kontrol. Pembohong tahu bahwa interogator memperhatikan perilaku pembohong dengan saksama. Jadi, pembohong mengatur perilaku nonverbal agar tampak jujur dan tulus.
Orang-orang itu sering kali menyadari perilaku stereotipe –penghindaran pandangan, gelisah, dan perubahan postur– yang umumnya dikaitkan dengan penipuan. Mereka terkadang berusaha keras untuk mempertahankan kontak mata, mengendalikan gerakan, dan menunjukkan sikap tenang secara emosional.
Meski seorang pembohong telah berusaha sebaik-baiknya, mustahil baginya untuk memantau, mengendalikan, atau menyamarkan semua perilakunya. Beberapa perilaku, seperti perubahan fisiologis akibat emosi yang kuat, berada di luar kendali kesadaran pembohong.
Hal itu rumit karena mayoritas orang tidak menyadari perilaku mereka sendiri, dan bagaimana mereka terlihat oleh orang lain. Akibatnya, perubahan kecil dalam perilaku pembohong dapat membocorkan informasi yang berharga.
Pada bagian terakhir itulah faktor penting bagi interogator. Maka, interogator memanfaatkan hal itu dengan melancarkan pertanyaan kunci. Alhasil, sebagian besar pembohong terjebak oleh interogator. Kebohongan pun terbongkar.
Dengan teknik yang tampak rumit itulah interogator bekerja. Buat interogator, itu bukan hal rumit karena sudah dilakukan berulang-ulang. Sebaliknya buat penjahat, ia baru saja mengarang kebohongan. Di sana kebohongan dipatahkan.
Dalam kasus pembunuhan Cinta, polisi pasti akan membongkar motif di balik kemarahan pelaku terhadap korban. Fakta sebenarnya. Rangkaian peristiwa demi peristiwa harus logis. Hal itu penting dalam pengungkapan fakta di persidangan kelak. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: