Pembunuh Cenderung Bohong saat Diinterogasi

ILUSTRASI Pembunuh Cenderung Bohong saat Diinterogasi, -Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BACA JUGA:Teknik Pembunuhan Mahasiswa di Bogor
BACA JUGA:Pembunuhan Bocah 5 Tahun Akibat Cinta Segitiga: Cemburu Bisa Membunuh
Maka, aparat Polres Langsa, Aceh, bergerak dan menangkap Noval. Melalui interogasi dan konfrontasi bukti-bukti, Noval mengakui sebagai pelaku pembunuhan itu. Ia jadi tersangka. Ia warga Tanah Datar. Ia kabur ke Aceh karena kakak kandungnya tinggal di sana.
Tapi, diinterogasi soal motif pembunuhan, Noval menjawab, karena sakit hati kepada korban. Katanya, korban memakinya dengan menyamakannya sebagai binatang. ”Hal ini masih kami dalami lagi,” kata Kasatreskrim Polres Tanah Datar AKP Surya Wahyudi.
Motif yang terlalu sepele itu tidak rasional. Orang tidak akan membunuh cuma gara-gara dimaki. Diduga, ada latar belakang di balik itu. Polisi punya banyak cara untuk mematahkan kebohongan tersangka, mengungkap konstruksi perkara.
BACA JUGA:Remaja Pembunuh Pacarnya ini Ngumpet di Keramaian
BACA JUGA:Investigasi di Pembunuhan Bos Perabot
Dikutip dari Federal Bureau of Investigation, Law Enforcement Bulletin (FBI LEB), berjudul The Truth About Lying: What Investigators Need to Know, diulas aneka teknik polisi dalam mengungkap kebenaran perkara pembunuhan melalui interogasi tersangka.
FBI LEB adalah buletin bulanan yang membahas topik-topik penegakan hukum dan peradilan pidana, diterbitkan sejak 1932.
Disebutkan, dalam interogasi tersangka, penyidik FBI berpedoman pada tiga faktor terkait kondisi tersangka. 1. Faktor emosional. 2. Kognitif. 3. Pengendalian atau kontrol.
Pertama, faktor emosi. Kebohongan akan gagal karena sulitnya tersangka menyembunyikan atau memalsukan emosi. Sebab, banyak perilaku berada di luar kendali sadar.
BACA JUGA:Kunci Inggris di Pembunuhan Vina
BACA JUGA:Tiga Buron Pembunuh di Film Vina
Terkadang tersangka dapat meredam respons, tetapi hampir mustahil menghilangkan semua bukti perasaan. Hal itu terutama berlaku ketika taruhannya tinggi atau konsekuensi tingkat hukuman yang berat.
Respons emosional yang kuat mengaktifkan cabang simpatik dari autonomic nervous system (ANS). Selanjutnya, menghasilkan perubahan fisiologis, perilaku, dan kognitif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: