Ditolong Malah Menthung: Driver Ojol Dibunuh Teman Masa Kecil

Ditolong Malah Menthung: Driver Ojol Dibunuh Teman Masa Kecil

ILUSTRASI Ditolong Malah Menthung: Driver Ojol Dibunuh Teman Masa Kecil.-Arya-Harian Disway-

Senin siang, 3 Maret 2025, atau empat hari kemudian, teman korban sesama tukang ojek online mendatangi rumah korban. Sebab, korban ditelepon tidak tersambung. Rumah tertutup. Terkunci dari dalam. Lampu di dalam rumah masih menyala. Ia curiga, lalu lapor ke tetangga.

Tetangga masuk rumah itu dengan cara seperti Arif masuk. Merogoh kunci lewat jendela. Tetangga dan teman masuk rumah. Bau busuk menyengat. Mereka masuk kamar, ketemu jenazah Arif. Mereka lapor polisi.

Selasa pagi, 4 Maret 2025, tersangka ditangkap polisi di rumahnya. Lengkap bersama motor milik korban yang sudah empat hari ia pakai kerja. Diinterogasi polisi, tersangka mengaku. Ia digelandang ke kantor polisi tanpa perlawanan.

Heran, teganya tersangka terhadap korban. Sadis. Membunuh tanpa rasa berterima kasih. Kok bisa begitu?

Prof Simon McCarthy-Jones, guru besar psikologi klinis dan neuropsikologi di Trinity College Dublin, Irlandia, menulis tentang pembunuh yang nyaris mustahil model Herdi itu. Tulisannya dimuat di BBC, 22 Oktober 2020, berjudul Why some people are cruel to others?.

Di sana dijelaskan: ”Menimbulkan bahaya atau rasa sakit kepada seseorang yang orang itu tidak mampu melakukan hal yang sama terhadap Anda mungkin tampak sangat kejam. Tetapi, hal itu terjadi lebih sering dari yang Anda duga.”

McCarthy mengutip ungkapan filsuf Prancis, Blaise Pascal (19 Juni 1623–19 Agustus 1662). Di masa jaya filsuf Pascal, pada 1658, mengatakan begini: ”Manusia adalah kemuliaan sekaligus sampah alam semesta. Kita mencintai dan membenci. Kita menolong dan menyakiti. Kita mengulurkan tangan dan menusukkan pisau.”

Lanjut Pascal: ”Kita paham jika seseorang menyerang balik orang lain sebagai tindakan pembalasan atau membela diri. Namun, ketika seseorang menyakiti orang yang tidak bersalah, kami bertanya, bagaimana mungkin kamu bisa?”

Sikap manusia yang kelihatan aneh itu sudah sangat kuno. Bahkan purba. 

McCarthy: ”Manusia biasanya melakukan sesuatu untuk mendapatkan kesenangan atau menghindari rasa sakit. Bagi kebanyakan dari kita, menyakiti orang lain menyebabkan kita merasakan sakit orang itu juga. Dan, kita tidak menyukai perasaan tersebut. Sehingga tidak dilakukan.”

Hal itu menunjukkan dua alasan, mengapa orang menyakiti orang yang tidak berbahaya, yakni: pelaku tidak  merasakan sakit orang lain. Atau, pelaku senang  merasakan sakit orang lain.

Alasan lain mengapa orang menyakiti orang yang tidak berbahaya adalah mereka tetap melihat ancaman. Seseorang yang kelihatan tidak membahayakan tubuh atau dompet Anda tetap dapat mengancam status sosial Anda. 

”Ini membantu menjelaskan tindakan yang membingungkan, ketika orang menyakiti orang lain yang membantu mereka secara finansial,” tulis McCarthy.

Langsung masuk ke teori psikologi. Pelaku diprediksi adalah orang sadis atau psikopat. Atau keduanya.

Dijelaskan, seseorang yang mendapatkan kesenangan dari menyakiti atau mempermalukan orang lain adalah seorang sadis. Para sadis merasakan penderitaan orang yang disakiti itu. Tapi, mereka menikmatinya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: