Kebakaran Hutan Korea Selatan Renggut 27 Jiwa, Terbesar dalam Sejarah

Kebakaran Hutan Korea Selatan Renggut 27 Jiwa, Terbesar dalam Sejarah

HUTAN TERBAKAR di dekat Sungai Nakdong, Andong, 27 Maret 2025. Sebanyak 27 warga tewas.-Anthony Wallace-AFP-

“Kita tidak bisa menyalahkan perubahan iklim sepenuhnya. Tetapi perubahan iklim memiliki dampak langsung dan tidak langsung yang nyata terhadap kondisi saat ini,” katanya kepada kantor berita Agence France-Presse.

Namun, faktor lain juga turut memperparah keadaan. Menurut profesor Hong Suk-hwan dari Universitas Nasional Pusan, kebijakan kehutanan Korea Selatan ikut berperan dalam meluasnya kebakaran.

Selama bertahun-tahun, Korea Selatan lebih menanam pohon pinus besar yang kaya resin. Bahan itu mudah terbakar. Korsel tidak memilih membiarkan hutan tumbuh secara alami dengan berbagai jenis pohon.

“Bayangkan kertas basah dan kertas kering yang direndam minyak. Mana yang lebih cepat terbakar? Hutan kita sekarang seperti kertas yang direndam minyak, membuat api meluas dengan kecepatan mengerikan,” katanya.


BERJIBAKU, seorang petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air di Kuil Byeongsan Seowon yang termasuk warisan kebudayaan dunia.-Anthony Wallace-AFP-

Di antara yang terancam bukan hanya rumah dan hutan, tetapi juga warisan sejarah yang telah bertahan selama berabad-abad.

Tengok saja kuil Bongjeongsa di Andong. Kuil itu adalah bangunan kayu tertua di Korsel. Masuk pula dalam daftar warisan dunia UNESCO. Di kompleks itu, sebatang pohon pinus berusia 200 tahun harus ditebang demi menyelamatkan bangunan utama.

“Kami tidak punya pilihan lain. Api menyebar dengan cepat dari satu pohon ke pohon lainnya,” kata kepala biksu di kuil itu.

Di Byeongsan Seowon, sebuah akademi Konfusianisme, para petugas pemadam kebakaran berjibaku menyemprotkan air dan bahan pemadam untuk melindungi situs bersejarah.

“Kami menyiramkan tiga ton air setiap hari,” ujar Lee Seung-myung dari Dinas Pemadam Kebakaran Andong.

Namun, mereka semua tahu bahwa upaya itu sepenuhnya bergantung pada angin.

“Jika angin bertiup kencang, api bisa terbawa dari kejauhan. Itu sangat mengkhawatirkan,” kata Choi Young-ho, seorang petugas pemadam kebakaran di lokasi.

Saat ini, satu-satunya harapan datang dari ramalan cuaca: hujan diperkirakan turun pada Kamis malam.

Bagi para petugas pemadam, hujan bisa menjadi momen krusial untuk menghentikan bencana. Namun, hingga saat itu tiba, mereka hanya bisa bertarung dengan waktu. Sebisa mungkin berjuang agar api tidak menghapus lebih banyak nyawa dan sejarah. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: