5 Fakta Menarik Grave of the Fireflies, Tayang di Bioskop Setelah 37 Tahun

Grave of the Fireflies kembali hadir di bioskop Indonesia mulai 29 Agustus 2025.--imdb.com
Bagi para penggemar film, kesempatan ini jelas sangat berharga. Sebelumnya, film besutan Isao Takahata itu hanya bisa ditonton lewat DVD, layanan streaming, atau pemutaran terbatas di festival film.
Dengan adanya penayangan ulang, penonton bisa merasakan kembali atau mungkin baru pertama kali emosi mendalam yang hanya bisa dihadirkan lewat pengalaman sinematik penuh di bioskop.
BACA JUGA:Mengenal Wonder of You: Stand Teraneh di Anime JoJo’s Bizarre Adventure
BACA JUGA:Leviathan, Anime Bertema Perang yang Punya Kisah Mendalam
2. Diangkat dari Kisah Nyata
Film ini diadaptasi dari pengalaman nyata Akiyuki Nosaka yang kehilangan adiknya akibat perang.--imdb.com
Tidak banyak yang tahu bahwa Grave of the Fireflies berasal dari novel semi autobiografi karya Akiyuki Nosaka yang terbit pada 1967. Nosaka menulis kisah itu berdasarkan pengalaman traumatis yang ia alami sendiri saat masih kecil.
Ia kehilangan adik perempuannya karena kelaparan pada masa perang. Sebuah tragedi yang kemudian ia abadikan dalam bentuk fiksi melalui tokoh Seita dan Setsuko.
Hal itulah yang membuat Grave of the Fireflies terasa begitu berbeda dari animasi pada umumnya. Ceritanya tidak lahir dari imajinasi semata, melainkan dari luka sejarah yang benar-benar nyata.
Kejujuran emosi dalam cerita inilah yang membuat film ini begitu otentik dan meninggalkan bekas mendalam di hati penontonnya. Bahkan hingga lebih dari tiga dekade setelah perilisannya.
BACA JUGA:Dereten Karakter Sampingan Anime yang Mencuri Spotlight
BACA JUGA:Moonrise, Anime Baru Wit Studio Tayang 10 April di Netflix
3. Bukan Sekadar Animasi
Diakui sebagai salah satu film perang terbaik, animasi ini menyimpan emosi sekuat film live-action.--imdb.com
Meski dikemas dalam medium animasi, Grave of the Fireflies diakui sebagai salah satu film perang paling kuat dan berpengaruh sepanjang masa.
Kritikus legendaris Roger Ebert pernah menegaskannya sebagai "Salah satu film perang paling menyedihkan yang pernah dibuat". Itu membuktikan bahwa animasi memiliki kemampuan untuk menyampaikan realisme emosional yang sama kuatnya dengan film live action.
Lewat gaya visual khas Studio Ghibli, film itu berhasil menghadirkan kontras yang begitu tajam. Keindahan malam yang dipenuhi cahaya kunang-kunang dipertemukan dengan kenyataan pahit berupa kelaparan, kehilangan, dan kesedihan mendalam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: berbagai sumber