Menanam Harapan di Mangrove Cuku Nyinyi, Kisah Andi Sofiyan dan PT Bukit Asam Melawan Emisi Karbon

Menanam Harapan di Mangrove Cuku Nyinyi, Kisah Andi Sofiyan dan PT Bukit Asam Melawan Emisi Karbon

Ekowisata Mangrove Cuku Nyinyi tumbuh rindang berkat kolaborasi warga dan PT Bukit Asam.-Salman Muhiddin-Harian Disway

Andi Sofiyan cuma lulusan SMP. Tapi ia menghidupkan kembali pesisir yang nyaris mati dengan menanam mangrove di Cuku Nyinyi, Pesawaran, Lampung. Langkahnya menguat setelah PT Bukit Asam bergabung penuh dalam perjuangannya. Kolaborasi unik itu mengubah lumpur pesisir jadi harapan melawan emisi karbon.

Ini cerita dari selatan Lampung. Dari Desa Sidodadi. Tempat di mana harapan tumbuh bukan dari beton atau gedung, tapi dari lumpur pesisir yang dulu nyaris mati.

Di sanalah Andi Sofiyan tinggal. Anak petani. Lulusan SMP. Bukan pejabat. Bukan bos. Tapi visinya? Jangan salah. Ia melihat jauh ke depan, melampaui garis pantai yang dulu bau, kumuh, dan dipenuhi sampah.

Kisah Andi bukan kisah sendirian. Ia tumbuh di antara strategi besar PT Bukit Asam. Ya, perusahaan batu bara itu. Yang dulu dikira cuma tahu gali dan jual. Ternyata tidak.

Sustainability dan dekarbonisasi jadi urusan serius mereka. Punya roadmap karbon sampai 2050. Reklamasi lahan bekas tambang. Studi (Carbon Capture, Utilization, and Storage) CCUS. Bahkan alat tambang fosilnya diganti listrik, disebutnya Eco Mechanized Mining.

Mereka pasang PLTS di sana-sini: di Tol Bali Mandara, Bandara Soekarno-Hatta, Kawasan Industri Cilegon. Di Sumatera, PLTS dipakai untuk irigasi, mengaliri 959 hektare sawah di 9 titik. Semua demi satu tujuan: kurangi emisi karbon.

Dan angka berbicara. Emisi CO2e yang mereka tekan: 323.296 ton di 2023 dan 305.523 ton di 2024. Jauh melonjak dibanding 182.792 ton di 2022. Artinya, mereka tidak main-main. Itu percepatan.


Andi Sofiyan (baju hitam) menerangkan kisahnya merawat Mangrove Cuku Nyinyi.-Salman Muhiddin-Harian Disway

Kolaborasi Kelompok Tani Hutan Bina Jaya Lestari dan PTBA

Di balik angka-angka raksasa itu, ada kisah kecil yang memberinya nyawa: Andi Sofiyan. Pemuda berdarah Jawa yang lahir dan tumbuh di Desa Sidodadi, Pesawaran.

Ia jadi Ketua Kelompok Tani Hutan Bina Jaya Lestari. Misinya sederhana: kembalikan “penjaga pesisir” yang nyaris punah: hutan mangrove.

Mangrove itu menahan abrasi. Memberi makan ikan, kepiting, dan biota laut lainnya. Menyerap polutan. Dan, ini yang mungkin tak disangka: menyerap karbon lebih hebat dari hutan darat.

Di tangan Andi, visi PTBA soal karbon biru bukan lagi slide presentasi. Ia jadi akar yang menancap di lumpur Cuku Nyinyi. Nyata. Hidup. Dan berbuah harapan.

Dulu, kata Andi, oknum-oknum tak bertanggung jawab merusak ekosistem pesisir. Sampah dibiarkan menumpuk. Abrasi mengintai pemukiman warga. Tak ada yang peduli.

Ia rindu suasana di tahun 90-an. Pantai bersih, banyak ikan dan kepiting bakau. Bukan sampah setinggi lutut.

Sebelum bergerak, perjuangan Andi menghadapi hambatan. Cobaan terberat justru datang dari lingkaran terdekat. Warga desa awalnya kurang peduli, bahkan cenderung mencibir inisiasinya.

"Termasuk istri saya. Ngapain ngurusin mangrove," kata Andi, tersenyum mengenang masa-masa sulit itu, 16 Oktober 2025.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: