Menanam Harapan di Mangrove Cuku Nyinyi, Kisah Andi Sofiyan dan PT Bukit Asam Melawan Emisi Karbon

Menanam Harapan di Mangrove Cuku Nyinyi, Kisah Andi Sofiyan dan PT Bukit Asam Melawan Emisi Karbon

Ekowisata Mangrove Cuku Nyinyi tumbuh rindang berkat kolaborasi warga dan PT Bukit Asam.-Salman Muhiddin-Harian Disway

Wajar istrinya protes. Di desa nelayan, prioritas utama adalah perut kenyang hari ini. Menanam pohon yang hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian, tentu dianggap pekerjaan sia-sia. 

Namun, Andi harus menelan ludah pahit. Terus bekerja sendirian melawan arus skeptisisme lokal.

Beruntung ia punya keinginan kuat memajukan desanya. Ia berusaha meyakinkan belasan warga dan pemuda untuk memulai aksi. Berhasil.

Dia bertemu kepala desa, mengobrol, mencari jalan keluar. Dan di sanalah takdir mempertemukan mereka dengan PT Bukit Asam Unit Pelabuhan Tarahan pada 2022. Sebuah perusahaan tambang batu bara, yang di Sidodadi, menjelma menjadi mitra penyelamat lingkungan.

Kolaborasi itu bukan sekadar basa-basi CSR (Corporate Social Responsibility). Ini adalah sebuah orkestrasi antara inisiatif lokal dan dukungan korporasi yang terstruktur.

Andi, yang dulu cuma lulusan SMP, tak hanya dibantu dalam urusan mangrove. Ia didorong untuk melanjutkan pendidikan kejar Paket C di PKBM binaan PTBA.

Kebetulan saat Harian Disway berkunjung ke Cuku Nyinyi, sang guru datang. "Bu guru kok ke sini," kata Andi sambil tersipu malu.


Lokal Hero Lampung, Andi Sofiyan bertemu guru kejar paket C di Eko Wisata Mangrove Cuku Nyinyi, Pesawaran, Lampung, 16 Oktober 2025.-Salman Muhiddin-Harian Disway

PTBA menunjukkan bahwa pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia) adalah prioritas. Bukan cuma di internal perusahaan, tapi juga di lingkungan sekitar.

PTBA tak cuma urus tambang. Anak-anak dari keluarga prasejahtera dikuliahkan lewat BIDIKSIBA. Yang masih SD–SMA dibantu lewat program Ayo Sekolah.

Saat Andi ikut kejar Paket C, kerja sama dengan PTBA secara paralel merambah ke berbagai sektor. Sumur bor muncul, air bersih tak lagi mimpi. Edukasi lingkungan nyusup ke kelas-kelas sekolah. Bahkan sekolah di pulau terpencil, yang dulu terlupakan, kini dapat pendampingan. Semua bergerak. Tanpa gembar-gembor.

UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dibina. Kawasan yang dulu kumuh itu disulap menjadi Ekowisata Mangrove Cuku Nyinyi yang biaya masuknya ramah di kantong: Rp15 ribu. “Mulai dari pengrajin batik, kerajinan kerang, hingga bank sampah. Semua bergeliat,” jelas Andi.

Di sini letak menariknya. Peran PTBA di Cuku Nyinyi menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam dunia bisnis, terutama di sektor ekstraktif. Bukan lagi sekadar "mengambil dan pergi", tapi "mengambil dan memulihkan".

PTBA menciptakan program pembibitan yang disebut "Coastal Rangers Cuku Nyinyi" bersama KTH Bina Jaya Lestari. Hasilnya konkret. Sebanyak 40 ribu bibit mangrove ditanam di lahan seluas 13,21 hektare.

Kami, finalis MEDIA MIND ID 2025 juga diajak ikut menanam mangrove di sana. Bibit-bibit kecil ditanam konsisten setiap bulan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: