Menanam Harapan di Mangrove Cuku Nyinyi, Kisah Andi Sofiyan dan PT Bukit Asam Melawan Emisi Karbon
Ekowisata Mangrove Cuku Nyinyi tumbuh rindang berkat kolaborasi warga dan PT Bukit Asam.-Salman Muhiddin-Harian Disway

Bibit mangrove Cuku Nyinyi yang ditanam, dirawat secara berkala oleh anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Bina Jaya Lestari.-Salman Muhiddin-Harian Disway
Sebagian besar mangrove yang mereka tanam sudah tumbuh kuat. Di balik kerimbunannya, tersimpak kekuatan yang begitu besar. Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan bahwa Mangrove Cuku Nyinyi memiliki potensi biomassa 84,05 ton per hektare, dengan cadangan karbon sebesar 39,5 ton per hektare.
Kemampuan hutan bakaunya dalam menyerap CO2 mencapai 144,86 ton per hektare, jauh di atas rata-rata nasional. Artinya, Cuku Nyinyi bukan cuma menahan abrasi, tapi juga menahan masa depan yang lebih panas.
Kawasan yang dirawat PTBA dan warga lokal itu jadi salah satu pilar nyata dalam upaya Indonesia mencapai target Net Sink 2030 dan melaksanakan Sustainable Development Goals (SDG) nomor 13: Aksi iklim.

Hasil absolut penurunan emisi PTBA dan dampak penguatan Mangrove Cuku Nyinyi.-Salman Muhiddin-Harian Disway
Pendekatan itu mengantarkan PTBA meraih berbagai penghargaan. Salah satunya dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
PTBA dapat dua PROPER Emas untuk Unit Tambang Tanjung Enim dan Unit Pelabuhan Tarahan. Penghargaan tertinggi itu diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, di Jakarta, 24 Februari 2025.

Penghargaan PT Bukit Asam, anggota MIND ID.-Salman Muhiddin-Harian Disway
Mendampingi Masyarakat Berdikari
Kisah Andi Sofiyan di Cuku Nyinyi adalah mikrokosmos dari strategi besar PTBA. Program CSR di sana tidak berhenti pada penanaman. Pemberdayaan masyarakat (community empowerment) menjadi kunci.
“Kami tidak melihat CSR sebagai kewajiban semata, tapi sebagai bagian integral dari strategi bisnis berkelanjutan,” kata Hamdani, Kepala Departemen HR, GS, Finance & CSR PTBA Unit Pelabuhan Tarahan.
“Kolaborasi dengan masyarakat bukan sekadar penanaman mangrove, ini adalah investasi jangka panjang pada ekosistem, ekonomi lokal, dan ketahanan iklim,” lanjutnya.
Ia menekankan bahwa pendekatan PTBA selalu berakar pada kebutuhan riil masyarakat. Bukan sekadar memberi, tapi memastikan masyarakat mampu berdiri di kaki sendiri (berdikari).
Hasillnya? Warga yang awalnya acuh pada sampah kini berubah jadi agen lingkungan. Bank sampah berdiri, menjadi pusat pengelolaan limbah sekaligus sumber penghasilan.
Bahkan limbah kerang, yang dulu hanya jadi tumpukan tak berguna, kini disulap Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Kerang Unyu menjadi kerajinan bernilai ekonomi. Dari sana lahir nilai tambah, lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan bagi puluhan keluarga di Desa Sidodadi.
“Ketika kami membina UMKM, kami tidak hanya memberi pelatihan membuat kerajinan, tapi juga mendampingi dari hulu ke hilir: branding, desain kemasan, hingga akses pasar lewat Platform PaDi (Pasar Digital),” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: