Rekor Pasar Modal
ILUSTRASI Rekor Pasar Modal.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BACA JUGA:Darbe Group, UKM Surabaya yang Sukses di Pasar Modal (1)
Gairah tersebut juga tak lepas dari faktor global. Setelah periode panjang pengetatan moneter di negara maju, pasar mulai membaca sinyal bahwa era suku bunga tinggi mendekati puncaknya. Ekspektasi penurunan suku bunga global –terutama dari bank sentral Amerika Serikat– mendorong investor untuk melakukan reposisi portofolio.
Dalam situasi seperti ini, dana global cenderung mencari pasar yang menawarkan kombinasi return tinggi dan risiko yang terkendali. Indonesia memenuhi dua kriteria tersebut. Yield obligasi yang masih atraktif, ditambah prospek laba emiten yang positif, membuat pasar modal Indonesia kembali masuk radar investor internasional.
Itu tampak dari masuknya dana asing yang cukup besar dan memberikan dorongan psikologis yang sangat kuat. Pasar membaca sinyal itu sebagai vote of confidence terhadap ekonomi nasional. Ketika asing membeli, investor domestik cenderung ikut menguatkan tren. Itulah efek pengganda yang sering kali membuat reli IHSG terasa begitu cepat.
BACA JUGA:Darbe Group, UKM Surabaya yang Sukses di Pasar Modal (2)
BACA JUGA:Darbe Group, UKM Surabaya yang Sukses di Pasar Modal (3-Habis)
Itu bisa dilihat dari kenaikan saham-saham blue chip yang dikombinasi saham-saham non-papan utama. Telkom, Unilever, Kalbe Farma tercatat beberapa kali menjadi top gainer. Itu didorong juga oleh saham-saham seperti Dian Swastika (DSSA) dan Barito Renewable Energy (BREN), COAL, dan PADI.
DIDORONG INVESTOR RITEL
Salah satu pendorong gairahnya pasar modal adalah melonjaknya jumlah investor ritel domestik. Jutaan investor baru masuk ke pasar saham, terutama generasi muda, yang akrab dengan teknologi dan informasi.
Aplikasi perdagangan saham yang makin mudah, literasi pasar modal yang lebih luas, serta narasi bahwa saham adalah instrumen investasi jangka panjang membuat pasar menjadi lebih hidup. Volume transaksi meningkat, likuiditas membaik, dan volatilitas dapat diserap oleh basis investor yang lebih luas.
Investor ritel juga membawa karakter baru: lebih responsif terhadap sentimen, berita, dan narasi pertumbuhan. Ketika cerita mengenai ”Indonesia emas”, hilirisasi, atau transformasi ekonomi bergema, pasar merespons dengan cepat. Dalam konteks itulah, IHSG bukan sekadar angka, melainkan juga refleksi optimisme kolektif.
Itu, misalnya, optimisme yang didorong oleh narasi hilirisasi sumber daya alam. Indonesia tidak lagi ingin sekadar menjadi pengekspor bahan mentah. Nikel, bauksit, tembaga, dan komoditas lain diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Pasar modal menyukai cerita jangka panjang. Hilirisasi menawarkan itu. Perusahaan tambang yang bertransformasi menjadi pemain industri terpadu memberi harapan pertumbuhan laba yang berkelanjutan. Investor tidak hanya membeli kinerja hari ini, tetapi potensi masa depan.
Di samping itu, agenda transisi energi dan ekonomi hijau turut memperkuat optimisme. Indonesia dipandang memiliki posisi strategis dalam rantai pasok global kendaraan listrik dan energi terbarukan. Ketika dunia bergerak ke arah itu, pasar modal Indonesia ikut menikmati ”windfall optimism”.
Yang tak kalah penting adalah kinerja fundamental emiten. Banyak perusahaan yang mencatatkan pertumbuhan laba yang solid, bahkan setelah periode pandemi. Perbankan, sebagai tulang punggung pasar, menunjukkan kesehatan yang sangat baik. Rasio permodalan kuat, kredit tumbuh, dan kualitas aset terjaga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: