Transformasi Balai Pemuda, dari De Simpangsche Societeit hingga Alun-Alun Kota Surabaya
Wajah Balai Pemuda dari pantulan kolam air mancur.-Fathan Zamani-Fathan Zamani
Noviana Dita Ananta, salah satu pengunjung Balai Pemuda merasakan kenyamanan fasilitas di sana.
“Asyik, mungkin karena nuansa museumnya. Biasanya ada pameran juga, seperti kemarin ada lukisan anak kecil yang dipajang. Fasilitasnya nyaman, kamar mandinya bersih,” ujarnya.
BACA JUGA:Malam Sastra Festival Balai Pemuda Hadirkan Teater Kampus
Agar tetap hidup, Balai Pemuda kerap dijadikan lokasi berbagai kegiatan: konser musik, pertunjukan teater, pameran seni, hingga bazar kuliner.
Pemkot juga menempatkan perpustakaan umum yang ramai dikunjungi pelajar. Pengunjung cukup melakukan registrasi daring dan menitipkan tas kepada petugas sebelum masuk.

Pelajar dan Mahasiswa memanfaatkan fasilitas Perpustakaan Balai Pemuda Surabaya, 27 November 2025.-Fathan Zamani-Fathan Zamani
Ruang-ruang di dalam kompleks Balai Pemuda juga dimanfaatkan oleh komunitas seni muda Surabaya untuk berlatih tari, teater, dan sastra.
Fasilitas pendukung seperti parkir bawah tanah untuk sepeda motor dan mobil semakin menunjang kenyamanan.
Transformasi Balai Pemuda menjadi contoh nyata bagaimana bangunan cagar budaya dapat diadaptasi tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.
Pemerintah Kota Surabaya berhasil menyeimbangkan pelestarian warisan sejarah dengan kebutuhan ruang publik modern melalui inovasi teknologi, program edukasi, dan ruang ekspresi yang inklusif.
Kini, Balai Pemuda bukan lagi sekadar sisa masa kolonial yang terabaikan, melainkan ruang hidup yang terbuka untuk semua. (*)
*) Fathan Zamani, Sinta Dwi Ayu Pitaloka, Revalani Septania Aulia Sari, Larasati Angel Melkianus, Bangga satria, mahasiswa kelas Online Journalism A Universitas 17 Agustus 1945.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: