Malam Sastra Festival Balai Pemuda Hadirkan Teater Kampus

Malam Sastra Festival Balai Pemuda Hadirkan Teater Kampus

Aksi Malam Puisi Sidoarjo, bawakan musikalisasi puisi di hadapan pengunjung Festival Seni Balai Pemuda,12 Oktober 2023.-Majalyn Nadiranisa Rakaputri-

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Festival Seni Balai Pemuda digelar pada 6-15 Oktober 2023.

Pada 12 Oktober, berlangsung Malam Sastra sebagai bagian dari rangkaian kegiatan acara tersebut.

Tampil berbagai komunitas sastra yang membawakan aksi teatrikal dan musikalisasi puisi.

Seperti komunitas Malam Puisi Sidoarjo. Dikomandoi oleh Ferdi Afrar, komunitas tersebut membawakan pertunjukan musikalisasi puisi Dendang Kata.

BACA JUGA:Malam Sastra Perlima Ramaikan Pameran Arek Limo

BACA JUGA:Ingin Ikut Teater Atau Reenaksi Sejarah? Bisa Sewa Kostum dan Properti di Sini

Dengan format tiga personel, Malam Puisi Sidoarjo menyenandungkan puisi pertama berjudul Dua Perkutut di Kabel Listrik.

Puisi tersebut dibawakan dengan nada-nada folk ballads yang syahdu.

"Puisi itu berkisah tentang keadaan di sekitar dari sudut pandang burung perkutut yang bertengger di atas kabel listrik," ujar Ferdi.

Burung-burung itu menyaksikan polah-tingkah manusia dan segala permasalahannya.

Misalnya, tentang seorang pemuda yang kebingungan dengan dunia dan kotanya.

Puisi kedua berjudul Juru Tagih. Berkisah tentang tetangga Ferdi sendiri yang terjerat pinjaman online atau pinjol.

Komunitas Rabo Sore dari Unesa membawakan teatrikal puisi berjudul Mencari Tubuh di Rumah Puisi.

Adegan diawali dengan dua aktor. Seorang menggendong rekannya sembari bergumam.


Aksi teatrikal dari Komunitas Rabo Sore, Unesa, dalam Malam Sastra Festival Seni Balai Pemuda, 12 Oktober 2023..-Majalyn Nadiranisa Rakaputri-

Mereka lantas bergerak, saling tarik-menarik kain merah dan putih.

Puisi Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana karya Mustofa Bisri dibawakan.

Simbol bangsa ini sedang dalam kondisi saling tarik-menarik kepentingan, yang ujung-ujungnya uang.

Seperti disimbolkan dalam adegan terakhir, ketika seorang aktor menutup mata aktor lainnya dengan masker bergambar uang rupiah.

BACA JUGA:Bangkit dari Mati Suri di Ladang Binatang Teater Institut Unesa

BACA JUGA:Enam Kelompok Teater Meriahkan Parade Teater Jawa Timur 2022

Kelompok teater mahasiswa PGRI Adi Buana Surabaya juga membawakan puisi karya Mustofa Bisri.

Judulnya, Ketika Agama Kehilangan Tuhan. Sebuah kritik tentang kehidupan beragama yang kehilangan moral.

Agama menjadi komoditas demi kepentingan tertentu.


Para penampil Malam Sastra Festival Balai Pemuda, pada 12 Oktober 2023.-Majalyn Nadiranisa Rakaputri-

Teater Gapus Fakultas Ilmu Budaya Unair mementaskan tiga karya puisi.

Dua puisi berjudul Piatu dan Oncoran karya F Aziz Manna, serta satu puisi Hikayat Pejalan Kaki karya Indra Tjahjadi.

Penampil terakhir dari mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel.

Mereka membawakan puisi Sajak Orang Lapar karya WS Rendra. Seorang aktor berada di tengah.

Kedua tangan dan kakinya dijerat tali yang ditarik empat aktor perempuan.

Pementasan UIN menutup gelaran Festival Seni Balai Pemuda pada 12 Oktober tersebut.

Tampak hadir dalam pementasan tersebut, budayawan Meimura. Ia mengapresiasi gelaran itu.

"Saya harap dengan festival ini, ruh Balai Pemuda sebagai ruang berkesenian para seniman menjadi hidup kembali" ujarnya. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: