Penipuan Terorganisir Menggunakan Deepfake AI Meningkatkan Selama Tahun 2025

Penipuan Terorganisir Menggunakan Deepfake AI Meningkatkan Selama Tahun 2025

Konten AI Deepfake semakin meresahkan. --shutershock

HARIAN DISWAY — Di era kecerdasan buatan (AI), penipuan terorganisir dengan memanfaatkan teknologi deepfake semakin mengkhawatirkan dan menjadi ancaman nyata terhadap keamanan digital masyarakat global maupun Indonesia.

Deepfake merupakan konten audio atau video yang dibuat dengan AI untuk meniru suara, wajah, atau perilaku seseorang secara hampir sempurna.

Bahkan telah berkembang dari eksperimen teknologi menjadi alat efektif pelaku kriminal untuk menipu dan memanipulasi korban. Teknologi ini kini tidak hanya aspek hiburan. Fitur itu telah berubah menjadi instrumen kriminal berskala besar.

Apa Itu Deepfake dan Mengapa Begitu Mengerikan


Deepfake kini semakin mudah diakses untuk kepentingan pribadi.-Dashu83-Getty Images

Deepfake memanfaatkan model AI generatif untuk menciptakan representasi audio dan visual yang sangat realistis dari individu nyata.

BACA JUGA:Deepfake Bisa Membunuh Karakter Seseorang

BACA JUGA:Implikasi Hukum Penyalahgunaan Deepfake

Perangkat lunak ini dapat memproses foto, video, atau klip suara pendek yang tersedia secara publik dan kemudian menghasilkan tiruan yang sangat mirip dengan aslinya. Karena itu, banyak orang sulit membedakan konten asli dari yang telah direkayasa AI, bahkan ketika disajikan secara langsung.

Menurut data internasional, jumlah file deepfake diperkirakan melonjak dari sekitar 500.000 pada 2023 menjadi sekitar 8 juta pada 2025, dengan kemunculan konten deepfake meningkat 550 persen antara 2019 dan 2024.

Lebih mengkhawatirkan lagi, laporan Keepnet Labs menunjukkan bahwa deepfake kini menyumbang sekitar 6,5 persen dari semua serangan penipuan yang terdeteksi, dan insiden deepfake diproyeksikan terus tumbuh tajam.

Pertumbuhan dan Dampak Penipuan Deepfake Secara Global

Kasus penipuan deepfake tidak hanya statistik abstrak. Dampaknya nyata dan masif. Dalam satu kejadian internasional besar di Georgia, operasi penipuan yang menggunakan video deepfake meniru selebritas memikat ribuan korban di Inggris dan Kanada, yang berujung pada kerugian lebih dari USD 35 juta (sekitar Rp 500 miliar).

BACA JUGA:Mengenal Deepfake sebagai Ancaman Digital dan Cara Mengidentifikasinya

BACA JUGA:DeepSeek, Deepfake, dan Deep-insight

Di AS, FBI melaporkan bahwa serangan penipuan online dengan elemen voice deepfake mencapai tingkat di mana korban sering kehilangan puluhan ribu dolar per insiden, dan 70 persen orang tidak bisa membedakan suara asli dari tiruan AI.

Taktik ini meluas dari penipuan investasi palsu hingga pembukaan akun bank dan manipulasi panggilan telepon untuk memperoleh akses finansial, yang memaksa lembaga keuangan memperkuat sistem otentikasi identitas.

Kasus dan Statistik di Indonesia


Penyalahgunaan Deepfake bisa mengancam pelakunya dengan pidana penjara dan denda.--Shutterstock

Ancaman deepfake juga nyata di Indonesia. PT Indonesia Digital Identity (VIDA) mencatat lonjakan kasus deepfake mencapai 1.550 persen antara 2022 dan 2023, menunjukkan pertumbuhan eksplosif modifikasi konten digital untuk tujuan penipuan.

Beberapa kasus lokal mencerminkan risiko yang dihadapi warga dan pejabat. Direktorat Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri pernah menangkap pelaku penipuan deepfake yang mencatut nama pejabat negara di Lampung Tengah sebagai modus pencurian identitas. Kasus tersebut mencuat pada Januari 2025 lalu.

BACA JUGA:Jebakan Simulakra Deepfake

BACA JUGA:Singapura Sahkan UU Larangan Menggunakan Deepfake AI dalam Proses Pemilu, Bisa Dianggap Pidana

Selain itu, kasus penipuan deepfake yang menargetkan warga di Bengaluru, India pada Desember 2025. Melalui laporan The Times India kasus itu menyebabkan kerugian sekitar Rs 33 lakh (sekitar Rp 700 juta) setelah korban percaya pada video palsu pejabat yang mempromosikan platform trading palsu.

Laporan komunitas digital bahkan menunjukkan bahwa kerugian akibat penipuan deepfake di Indonesia telah mencapai sekitar Rp 700 miliar, mendorong pemerintah memperkuat regulasi dan edukasi publik terkait AI dan konten palsu.

Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber Comunnication And Information System Security Research Center (CISSReC) Pratama Pershada, juga menegaskan bahwa kejahatan dengan modus ini satu langkah di depan dari kejahatan siber lain.

"Mereka menggunakan AI untuk memindai internet secara terus-menerus, merantai kerentanan, dan melancarkan serangan dengan intervensi manusia yang minimal," ungkapnya. Sehingga saat ini kejahatan dengan deepfake memiliki peningkatan kecepatan yang signifikan.

BACA JUGA:Korea Selatan Membuka Penyelidikan Terhadap Kasus Deepfake Telegram

BACA JUGA:Donald Trump Posting Gambar Deepfake AI Berisi Dukungan Taylor Swift

Organisasi dan Penanggulangan

"Peningkatan insiden ini membuat regulator dan lembaga keamanan dunia bereaksi," lanjutnya. Ia juga menambahkan bahwa sekarang FBI dan Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur Amerika (CISA) di Amerika Serikat memperingatkan bahaya ini.

Bahwa AI generatif akan terus digunakan untuk penipuan identitas dan rekayasa sosial, sehingga sistem deteksi tradisional tidak lagi cukup tangguh.

Sehingga menurut Pratama ahli keamanan harus memiliki strategi keamanan yang lebih adaptif. Termasuk penggunaan autentikasi multi-faktor, verifikasi identitas yang diperkuat, dan teknologi deteksi deepfake berbasis AI.

"Terlebih lagi, edukasi publik menjadi kunci utama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengenali konten palsu," pungkasnya. Karena menurut Pratama deepfake telah berkembang dari alat eksperimental menjadi ancaman kriminal yang nyata.

Sehingga bukan hanya individu yang perlu waspada. Tetapi juga perusahaan dan institusi. Karena semuanya berisiko menjadi target. Itulah perlunya kolaborasi antara sektor publik dan swasta dalam mitigasi ancaman ini menjadi sangat penting.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: