Aksi Militer AS ke Venezuela: Menuju Fragmentasi Rantai Pasok Global?
ILUSTRASI Aksi Militer AS ke Venezuela: Menuju Fragmentasi Rantai Pasok Global?.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Ketiga, semi-periphery yang dianggap sebagai negara perantara yang memiliki karakteristik campuran, mengeksploitasi negara pinggiran, tapi juga dieksploitasi negara inti.
Wallerstein menetikberatkan pada ketidaksetaraan global dan pembagian kerja internasional, di mana negara inti sangat mendominasi dan negara pinggiran dieksploitasi untuk menyedot bahan mentah dan tenaga kerja murah demi akumulasi keuntungan surplus bagi sekelompok elite negara inti.
Menciptakan ketergantungan ekonomi dan militer serta ketidakadilan berkelanjutan. Dominasi atas sumber daya global bukan hanya soal ekonomi semata, melainkan juga tentang posisi strategis dalam mata rantai nilai-nilai kapitalisme dunia.
Dengan demikian, pendekatan bersenjata yang diambil Washington terhadap Venezuela itu juga secara tersamar menciptakan tekanan bagi negara-negara pinggiran pemilik SDA melimpah dan memiliki ketergantungan pada ekonomi dan investasi AS.
Juga, menggiring persepsi kuat yang bisa mereduksi kapasitas negara-negara pinggiran untuk membangun kebijakan yang independen yang bebas dari kooptasi negara inti.
Intervensi militer AS atas pemilik cadangan minyak terbesar di dunia tersebut bukanlah tindakan serta-merta. Berbagai embargo dan blokade ekonomi telah dilakukan AS, tetapi belum mampu menciptakan inferioritas kekuatan politik Maduro di dalam negeri.
Bahkan, tindakan penyitaan kargo minyak dan penghindaran perairan Venezuela oleh perusahaan pelayaran menunjukkan bagaimana instrumen ekonomi, maritim, dan rantai pasok dapat dipakai sebagai senjata geopolitik Washington dalam melemahkan legitimasi Maduro.
Maka, aksi militer AS pada awal Januari 2026 merupakan puncak akumulasi kegusaran Washington untuk mengakhiri rezim Maduro.
Dalam perspektif geopolitik, jika sanksi ekonomi dan perdagangan belum menunjukkan dampak pelemahan secara kolateral, pendekatan militer sebagai opsi terakhir dapat dilakukan untuk meraih target yang diinginkan.
Pola-pola semacam itu telah ditampilkan AS secara berulang pada berbagai intervensi militer lainnya seperti Perang Teluk pada 1990, kemudian berlanjut pada serbuan ke Irak 2003 dan 2007 yang mengakhiri rezim Saddam Husain.
Pola-pola demikian, menurut pandangan Noam Chomsky dalam karyanya, Who Rules the World, merupakan bentuk ”kekerasan ekonomi” yang dikemas dengan selubung senjata. Setiap penggunaan kekuatan koersif oleh pemegang hegemoni untuk mempertahankan dominasinya justru mempercepat delegitimasi dan resistansi global.
Chomsky menambahkan, retorika promosi demokrasi yang digaung-gaungkan Washington sering kali menjadi legitimasi moral palsu. Realitasnya, AS mendukung demokrasi selama hasilnya sejalan dengan kepentingan elite korporasi dan geopolitik Barat.
Kasus Venezuela menunjukkan kontradiksi terhadap demokratisasi yang selama ini dikumandangkan AS. Contohnya, pemilu Venezuela dianggap ”tidak sah”, tetapi monarki absolut di Timur Tengah tetap menjadi sekutu mesra AS. Dalam kerangka pemikiran Chomsky, itu adalah standar ganda imperial.
IMPLIKASINYA TERHADAP RANTAI PASOK
Ketika akses Venezuela ke pasar AS dan sebagian pasar Barat menyempit, ekspor dialihkan terutama ke pasar Asia, dan industri minyak Venezuela menegaskan pergeseran itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: