Aksi Militer AS ke Venezuela: Menuju Fragmentasi Rantai Pasok Global?
ILUSTRASI Aksi Militer AS ke Venezuela: Menuju Fragmentasi Rantai Pasok Global?.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BACA JUGA:Leonardo DiCaprio Batal Terbang ke Palm Springs Gara-Gara Aksi Militer AS di Venezuela
BACA JUGA:Maduro Ditangkap, Mahkamah Agung Venezuela Tunjuk Wapres Delcy Jadi Presiden Interim
Meski skala konflik AS-Venezuela dianggap belum setara konflik-konflik geopolitik lain, pendekatan militer eskalatif AS atas Venezuela muncul di saat dunia sedang dalam tekanan berbagai risiko seperti perlambatan ekonomi global akibat perang tarif AS-Tiongkok yang belum pasti kapan melandai.
Bahkan, terdapat penilaian bahwa serangan AS atas Venezuela merupakan pesan terselubung Washington kepada Beijing dan Moskow agar tidak sekali-kali membangun arteri rantai pasok di bumi Amerika Latin.
Keyakinan Washington sangat beralasan jika melihat data statistik distribusi minyak mentah bahwa Tiongkok merupakan salah satu importer minyak mentah terbesar Venezuela yang pada 2024 telah membeli 727,35 juta barel.
BACA JUGA:AS Cabut Pembatasan Ruang Udara Karibia Pasca Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro
BACA JUGA:10 Fakta Nicolas Maduro, Presiden Venezuela yang Ditangkap Trump
Oleh karena itu, tidak mengejutkan jika dunia meyakini bahwa terdapat indikasi kuat bahwa AS sangat berambisi ingin mengangkangi ”emas hitam” Venezuela karena importer terbesar urutan teratas adalah AS sendiri dengan volume sebesar 5,88 miliar barel pada 2024.
DARI EMBARGO EKONOMI KE PENDEKATAN MILITERISTIK
Agresivitas politik luar negeri Paman Sam yang tecermin pada pendekatan militernya pada Venezuela sangat relevan dengan teori sistem dunia (world-system theory) Immanuel Wallerstein.
Teori Wallerstein menjelaskan bahwa dunia dianggap sebagai satu kesatuan sistem ekonomi kapitalis tunggal yang hierarkis dan terbagi menjadi tiga zona.
BACA JUGA:8 Fakta Tentang Venezuela setelah Nicolas Maduro Ditangkap
BACA JUGA:Warga Diaspora Venezuela Rayakan Penangkapan Maduro, Thank You Trump!
Pertama, negara inti (i) yang diasosiasikan sebagai negara maju dengan penguasaan teknologi tinggi dengan dukungan militer kuat dan cenderung pengeksploitasi sumber daya alam (SDA) negara lain.
Kedua, negara pinggiran (periphery) yang direpresentasikan sebagai negara kaya SDA dan tenaga kerja murah tapi miskin serta punya ketergantungan tinggi kepada negara inti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: