Secangkir Jus Alpukat di Denpasar dan Runtuhnya Wajah Awal Tahun Kita
ILUSTRASI Secangkir Jus Alpukat di Denpasar dan Runtuhnya Wajah Awal Tahun Kita.-Arya-Harian Disway-
Targetnya adalah ”otak” kerajaan: elite politik, tokoh agama, dan dinamika istana. Mereka memetakan siapa yang loyal, siapa yang berkhianat, dan ke mana arah angin kekuasaan berembus di Saudi.
Kenapa? Bukankah mereka sekutu?
Jawabannya ada di buku teks Realpolitik.
Dalam politik internasional, tidak ada saudara. Yang ada hanya pesaing.
UEA sadar satu hal fundamental. Saudi sedang bangun tidur. Visi 2030 membuat Saudi bertransformasi menjadi raksasa ekonomi baru yang lapar. Raksasa pariwisata. Raksasa investasi.
Jika raksasa itu berdiri tegak, bayangannya akan menutupi Dubai dan Abu Dhabi.
Sebelum ”kakak”-nya menjadi terlalu besar dan tak sengaja menginjak kakinya, sang ”adik” menyelinap ke kamar kakaknya. Mengintip isi dompetnya. Mencatat rahasianya.
Itu adalah manifestasi dari Dilema Keamanan (Security Dilemma).
Pelajaran mahal buat kita di Indonesia: aliansi itu rapuh. Senyum diplomatik itu topeng.
Di era kini, mata uang yang berlaku bukanlah dolar atau euro, melainkan ketidakpercayaan (mistrust).
NAGA DI JANTUNG KOMPUTER
Geser pandangan ke tetangga dekat kita. Asia Tenggara.
Di sini perangnya lebih sunyi. Tidak ada mata-mata berbaju gamis. Yang ada adalah kode biner.
Kelompok peretas itu bernama ”Mustang Panda”, sebuah nama yang terdengar lucu untuk kelakuan iblis yang sedang mengamuk.
Beberapa artikel menyebutkan, mereka menyerang jaringan pemerintah di Myanmar dan Thailand.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: