Secangkir Jus Alpukat di Denpasar dan Runtuhnya Wajah Awal Tahun Kita

Secangkir Jus Alpukat di Denpasar dan Runtuhnya Wajah Awal Tahun Kita

ILUSTRASI Secangkir Jus Alpukat di Denpasar dan Runtuhnya Wajah Awal Tahun Kita.-Arya-Harian Disway-

DI Denpasar, Kamis, 8 Januari 2026, hujan baru saja reda di kawasan Renon. Sisa-sisa air menetes dari daun kemboja dan aroma tanah basah (petrikor) menguap, bercampur dengan bau aspal yang mulai panas.

Saya duduk di pojok sebuah kedai kopi langganan. Memesan segelas jus alpukat. Dingin. Tanpa gula.

Suasana di sekitar saya damai sekali.

Di meja sebelah, sekelompok mahasiswa Udayana sedang tertawa-tawa mengerjakan tugas UAS kuliah. Di luar, beberapa pengemudi ojek online sedang berteduh sambil merokok dan berkelakar.

Dunia terlihat normal. Wajar.

BACA JUGA:Purbaya Sebut Indikator Ekonomi Indonesia Positif di Awal Tahun

BACA JUGA:Refleksi Awal Tahun Warnai Peluncuran Pojok Baca di PKBM Bina Abdi Wiyata

Seolah-olah roda kehidupan berputar seperti biasa.

Namun, ketenangan itu terasa palsu, juga kadang bahkan menipu, saat saya menyalakan laptop.

Membaca rangkuman berita global minggu pertama tahun 2026 ini, rasanya seperti menonton film thriller politik yang skenarionya ditulis orang stres.

Bukan karena ada perang besar yang meledak dengan dentuman nuklir. Justru karena tidak ada ledakan.

BACA JUGA:Cuaca Awal Tahun: BMKG Pantau Bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia, Lampung dan Bengkulu Waspada Angin Kencang

BACA JUGA:Hujan Meteor Quadrantid Bertemu Supermoon di Awal Tahun 2026

Perangnya senyap. Dingin. Dan terjadi di tempat yang tidak kita duga: di dalam kabel bawah laut, di aplikasi kencan, dan di senyum diplomatik para pemimpin negara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: