Kekayaan Alam dan Tanggung Jawab Bangsa

Kekayaan Alam dan Tanggung Jawab Bangsa

ILUSTRASI Kekayaan Alam dan Tanggung Jawab Bangsa.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Menanam pohon bukan aktivitas simbolis. Ia adalah pernyataan sikap. Pohon bekerja dalam diam, tetapi dampaknya panjang. Akar menahan tanah. Daun menyerap karbon. Tajuk menyimpan air. Pohon memberi waktu bagi bumi untuk bernapas.

Menanam pohon berarti memulihkan keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan.

Selama ini paradigma pembangunan terlalu sering memandang alam sebagai objek yang bisa diambil terus-menerus. Padahal, alam juga membutuhkan perawatan. Setiap hektare hutan yang dibuka harus diimbangi pemulihan. Setiap eksploitasi harus disertai tanggung jawab ekologis.

Jika Soekarno berbicara tentang mengolah kekayaan alam sendiri, konteks hari ini menambahkan satu kata penting: mengelola dengan bijaksana. Hilirisasi industri tanpa konservasi hanya akan memindahkan masalah ke masa depan.

Pertumbuhan ekonomi yang mengorbankan lingkungan adalah kemajuan semu. Ia mungkin meningkatkan angka dalam jangka pendek, tetapi meninggalkan beban ekologi jangka panjang. Ketika daya dukung alam runtuh, ekonomi ikut runtuh.

Menanam pohon adalah bentuk koreksi atas paradigma lama itu. Ia mengajarkan kesabaran, keberlanjutan, dan tanggung jawab.

NEGARA WAJIB HADIR, WARGA TAK BISA ABSEN

Negara memiliki kewajiban konstitusional menjaga kekayaan alam. Regulasi harus tegas. Penegakan hukum harus konsisten. Reboisasi tidak boleh berhenti sebagai laporan proyek dan seremoni tanam bibit.

Namun, tanggung jawab tidak berhenti di negara. Warga juga memiliki peran. Menanam pohon di pekarangan, di sekolah, di kampung, di lahan kritis, adalah bentuk nasionalisme ekologi. Cinta tanah air tidak cukup dengan slogan. Ia harus hadir dalam tindakan nyata.

Di situlah pesan Soekarno menemukan wujud paling konkret. Mengolah kekayaan alam tidak berarti menghabiskannya, tetapi memastikan ia tetap ada.

Soekarno mengatakan dunia akan iri pada Indonesia. Namun, iri yang dimaksud bukan pada tambang yang terkuras atau hutan yang habis. Dunia akan iri jika Indonesia mampu membuktikan bahwa kekayaan alam bisa menjadi sumber kesejahteraan tanpa menghancurkan lingkungan.

Menanam pohon mungkin terlihat kecil. Tetapi, justru dari tindakan kecil yang konsisten, perubahan besar dimulai. Pohon tidak memilih siapa yang menanamnya. Ia bekerja untuk semua.

Pada akhirnya, kekayaan alam Indonesia bukan soal seberapa banyak yang bisa diambil hari ini, tetapi seberapa lama ia bisa dinikmati bersama. Soekarno sudah mengingatkan. Konstitusi sudah menegaskan. Alam sudah memberikan sinyal.

Tinggal satu pilihan: terus menguras atau mulai merawat. Menanam pohon adalah jawabannya.

Menanam pohon pada dasarnya pun sama dengan menanam kebaikan dan kebenaran yang kemudian pasti akan memanen buah di kemudian hari.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: