Kekayaan Alam dan Tanggung Jawab Bangsa

Kekayaan Alam dan Tanggung Jawab Bangsa

ILUSTRASI Kekayaan Alam dan Tanggung Jawab Bangsa.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

AKU tinggalkan kekayaan alam Indonesia biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya.”

Pernyataan Ir Soekarno itu sering dikutip dalam pidato, spanduk, dan unggahan media sosial. Namun, kerap kehilangan konteks. Padahal, kalimat itu bukan sekadar kebanggaan nasional. Ia adalah wasiat politik dan ekonomi sekaligus peringatan keras tentang masa depan bangsa.

Soekarno tidak sedang memuji kekayaan alam Indonesia. Ia sedang mengingatkan: kekayaan itu hanya bermakna jika dikelola sendiri, dijaga bersama, dan diwariskan dengan utuh. Tanpa itu, kekayaan justru berubah menjadi beban sejarah.

BACA JUGA:Anies Ingatkan Kekayaan Alam untuk Kemakmuran Rakyat sebagai Amanat Konstitusi

Indonesia memang dianugerahi alam yang luar biasa. Hutan tropis yang luas. Laut yang kaya. Tanah subur. Cadangan mineral strategis. Namun, sejarah global menunjukkan satu pelajaran penting: negara kaya sumber daya tidak otomatis menjadi negara sejahtera. 

Banyak yang justru terjebak dalam eksploitasi berlebihan, ketimpangan, dan kerusakan lingkungan.

Soekarno paham risiko itu sejak awal.

Makna utama kutipan tersebut adalah kemandirian ekonomi. Soekarno menolak pola lama ekonomi kolonial: Indonesia sebagai pemasok bahan mentah, sementara nilai tambah dinikmati pihak lain. Dalam pandangannya, kekayaan alam harus diolah oleh bangsa sendiri, dengan kemampuan sendiri, untuk kemakmuran rakyat sendiri.

Prinsip tersebut kemudian ditegaskan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Bukan untuk segelintir elite. Bukan untuk kepentingan asing. Bukan pula untuk dihabiskan tanpa perhitungan.

Masalahnya, dalam praktik, semangat itu sering tergerus. Eksploitasi kerap berjalan lebih cepat daripada perencanaan. Pertumbuhan ekonomi dikejar, sementara daya dukung lingkungan diabaikan. Hutan ditebang, tetapi reboisasi tertinggal. Sungai dipakai, tetapi tidak dipulihkan.

Di situlah pesan Soekarno terasa makin aktual.

Kekayaan alam sejatinya bukan milik generasi hari ini. Ia adalah titipan antargenerasi. Jika hari ini kita mengurasnya tanpa kendali, yang kita wariskan kepada anak cucu bukan kesejahteraan, melainkan krisis.

Banjir, longsor, kekeringan, dan krisis pangan bukan semata bencana alam. Ia sering kali adalah konsekuensi kebijakan dan perilaku manusia. Alam hanya menagih apa yang diambil terlalu berlebihan.

Karena itu, menjaga alam bukan isu pinggiran. Ia adalah agenda kebangsaan. Dan, salah satu tindakan paling konkret, paling sederhana, sekaligus paling strategis adalah menanam pohon.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: