Tertawa di Tengah Takut: Komedi, Kritik, dan Demokrasi

Tertawa di Tengah Takut: Komedi, Kritik, dan Demokrasi

ILUSTRASI Tertawa di Tengah Takut: Komedi, Kritik, dan Demokrasi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Tawa menjadi medium refleksi sekaligus peringatan, bahwa kritik bisa disampaikan tanpa harus destruktif, dan demokrasi bisa terus hidup jika kita berani bercakap.

Jika fungsi itu dilemahkan oleh ketakutan, yang hilang bukan hanya kebebasan komedian, melainkan kualitas komunikasi publik. 

Kita kehilangan ruang aman untuk berbeda. Kita kehilangan bahasa alternatif untuk menyampaikan kegelisahan. Kita kehilangan tawa sebagai medium refleksi kolektif.

Acara seperti yang menampilkan Pandji Pragiwaksono, Arie Kriting, Mamat Alkatiri, dan komedian lain seharusnya dilihat sebagai praktik komunikasi demokratis. 

Komedi adalah cara warga berbicara tentang negaranya, tentang lingkungan, tentang layanan publik, dituturkan dengan cara tertawa. Demokrasi yang sehat tidak alergi humor. Negara yang kuat tidak takut ditertawakan. Sebab, tawa adalah cermin.

Namun, ketika tawa mulai dicurigai, yang hilang bukan hanya para comedian, melainkan keberanian kita sendiri. 

Keberanian untuk menertawakan, untuk menegur, untuk mempertanyakan. Tanpa keberanian itu, demokrasi memang masih berjalan, tetapi hanya sebagai prosedur. Ia hidup, tapi mati rasa. Ia ada, tapi hampa. 

Kita bisa memilih menertawakan atau membisu, dan pilihan itu menentukan masa depan ruang publik kita: apakah ia tetap menjadi arena percakapan yang hidup, atau sekadar panggung formalitas tanpa hati. (*)

*) Suko Widodo adalah dosen Departemen Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: