Tertawa di Tengah Takut: Komedi, Kritik, dan Demokrasi

Tertawa di Tengah Takut: Komedi, Kritik, dan Demokrasi

ILUSTRASI Tertawa di Tengah Takut: Komedi, Kritik, dan Demokrasi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

SAYA penggemar komedi. Terutama komedi yang berani menyentuh urusan publik dan kekuasaan. Tidak hanya untuk tertawa, tetapi juga karena di situlah kegelisahan saya menemukan bentuk. Ada rasa hanyut sekaligus geregetan. Lucu, tetapi menyentil. Tertawa, tetapi juga mengernyit.

Setiap kali komedian bicara tentang ketidakadilan, penguasa yang absurd, atau reaksi publik yang berlebihan, saya merasa becermin. Apa yang mereka ucapkan sering kali adalah kegelisahan yang sehari-hari saya pendam sebagai warga negara. 

Bedanya, mereka menyampaikannya dengan tawa, dan tawa itulah yang membuat pesannya menjadi sampai kepada audiens.

Suatu waktu, saya menyaksikan Pandji Pragiwaksono berbicara tentang ”logika publik” yang kadang absurd, lalu penonton tertawa terbahak-bahak. Namun, di sela tawa itu, ada yang diam. Ada yang mengangguk pelan. 

Rasanya seperti ada pesan rahasia yang hanya sampai kepada mereka yang mau menyimak lebih dalam. Di situlah saya menyadari bahwa komedi adalah bahasa yang sangat canggih: ia menyampaikan kritik sambil meredam emosi defensif audiens.

Sebab itulah, acara yang menghadirkan Pandji dan komedian lain tidak sekadar hiburan. Ia adalah ruang ekspresi kegelisahan kolektif. Tempat kita menertawakan sesuatu yang sebenarnya tidak lucu, tetapi terlalu berat jika hanya dipendam. 

Saya sering merasa lega setelah menonton pertunjukan seperti itu. Sebab, ada rasa bahwa kegelisahan saya tidak sendirian. Komedi memberikan ruang bagi suara yang selama ini teredam.

Maka, ketika Pandji dilaporkan ke polisi karena ucapannya, saya kaget dan gelisah. Rasanya seperti seseorang mencoba menutup ruang yang selama ini memberi kita napas. Saya bertanya-tanya: apakah tawa kini harus dihitung dengan takut? Apakah kritikan yang dikemas dalam humor bisa menjadi risiko hukum? 

Perasaan itu bukan sekadar prihatin kepada Pandji sebagai individu, melainkan juga khawatir terhadap masa depan komunikasi publik –ruang tempat kritik lembut, ironi, dan humor seharusnya tetap hidup.

KOMEDI SEBAGAI BAHASA KRITIK

Dalam perspektif komunikasi, komedi adalah bentuk pesan yang sangat efektif. Kritik tidak disampaikan secara frontal atau menggurui, tetapi melalui ironi, pengalaman personal, dan humor. Audiens tertawa lebih dulu, lalu berpikir belakangan. Resistansi menurun. Kedekatan emosional tercipta.

Para komedian sering memulai dari hal-hal sederhana: pengalaman pribadi, respons publik, atau kebiasaan sosial. 

Dari situ, para komedian mengajak audiens melihat persoalan yang lebih luas, tentang relasi warga dengan kekuasaan, cara kita memperlakukan perbedaan, atau kecenderungan kita sendiri yang mudah menghakimi. 

Tidak ada perintah, tidak ada kesimpulan kaku. Hanya ajakan berpikir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: