Disertasi Berbasis Epos Ramayana Antar Puji Karyanto Raih Gelar Doktor

Disertasi Berbasis Epos Ramayana Antar Puji Karyanto Raih Gelar Doktor

Suasana sidang terbuka disertasi doktoral Puji Karyanto, 13 Januari 2026 di ruang Adi Sukadana, FISIP, Unair.-Puji Karyanto-

"Saat Orde Baru, semua pemahaman bersifat tunggal. Berdasarkan otoritas kuasa. Ketika Reformasi, banyak nilai-nilai alternatif atau nilai baru yang muncul. Juga sesuatu yang didekonstruksi bahkan secara ekstrem. Seperti ketiga karya itu," ujar pria 57 tahun tersebut.

Menurut paparan Puji, karya Agus Sunyoto bersifat historis-ideologis. Sedangkan karya Sri Teddy cenderung simbolik-filosofis. Kemudian karya Sujiwo Tejo membongkar struktur narasi epik dalam Ramayana.

"Istilahnya, epos klasik itu dihadirkan dalam teks baru yang tidak hanya mereproduksi. Tapi juga mentransformasi. Tidak sekadar merespons. Tapi banyak hal yang diubah," katanya.

BACA JUGA:BRICS Award 2025 Angkat Sastra Global South: Mesir Jadi Tonggak, Indonesia Kompasnya

BACA JUGA:Film dan Sastra, Sarana Mengajarkan Semangat Kepahlawanan bagi Generasi Muda

Misalnya, dalam ketiga novel, oposisi kebaikan-kejahatan tidak lagi bersifat absolut. Rahwana tidak semata-mata digambarkan sebagai simbol adharma.

Melainkan Rahwana sebagai figur yang memiliki rasionalitas moral, visi politik, dan berbagai pengalaman yang dialaminya terkait ketidakadilan.

Sebaliknya, Rama tidak sepenuhnya ditampilkan sebagai representasi dharma. "Ketiga penulis membongkar logika moral hitam-putih. Lalu menghadirkan etika yang lebih kontekstual dan historis," ungkapnya.

"Jadi, tiga karya itu adalah perwujudan dari praktik hermeneutik dan ideologis. Para penulis menjadikan teks sebagai arena dialog antara tradisi dan modernitas," tambahnya. 

BACA JUGA:Simbolisasi Pemuda dalam Sastra

BACA JUGA:Perjalanan Kritikus Sastra Nanda Alifya Rahmah, Peraih Anugerah Sutasoma 2025

Itu pula yang telah dilakukan oleh nenek-moyang Nusantara. "Leluhur kita menghadirkan perspektif baru tentang Ramayana. Sehingga epos tersebut bisa di-Nusantara-kan. Ada beberapa kisah yang disesuaikan dengan sosio-kultural pada masa itu dan semacamnya," ujar ayah empat anak itu.


Dr. Puji Karyanto, SS., M.Hum bersama para penguji disertasi doktoralnya yang digelar di FISIP Unair, 13 Januari 2026.-Puji Karyanto-

Disertasi itu pun mendapat sambutan positif dari para penguji. Keberadaannya dinilai berkontribusi dalam merumuskan kerangka baru.

Yakni terkait reproduksi teks klasik yang mengintegrasikan hermeneutika naratif, kritik ideologis, dan konteks historis secara simultan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: