Disertasi Berbasis Epos Ramayana Antar Puji Karyanto Raih Gelar Doktor
Suasana sidang terbuka disertasi doktoral Puji Karyanto, 13 Januari 2026 di ruang Adi Sukadana, FISIP, Unair.-Puji Karyanto-
SURABAYA, HARIAN DISWAY - Ramayana. Epos mahakarya klasik itu telah dikenal lintas-bangsa. Tanah air pun mengenal kisah itu.
Dengan tokoh utama Rama sebagai simbol dharma atau kebaikan. Serta peran antagonis: Rahwana. Sebagai simbol adharma atau keburukan.
Epos itu pula yang mengantar Puji Karyanto, dosen Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga (Unair), meraih gelar doktor.
Ia menulis disertasi berjudul Narasi Reproduksi Epos Ramayana dalam Kesusasteraan Indonesia Kontemporer: Membaca Makna Sosial Teks Sastra Perspektif Hermeneutika Ricouer.
BACA JUGA:Kupas Kisah Sejoli Rama-Sinta, Sruntulisme Gelar Pameran Arsip Ramayana
BACA JUGA:Menteri ATR AHY Bakal Ikuti Ujian Terbuka Doktoral di Universitas Airlangga Surabaya Besok
Disertasi itu telah diujikan dalam sidang terbuka, 13 Januari 2026 di Ruang Adi Sukadana, FISIP, Unair. "Disertasi saya merupakan penelitian ilmu sosial. Menggunakan teks sastra kontemporer Ramayana sebagai objek kajian," ungkapnya.
Namun, fokusnya adalah narasi reproduksi epos tersebut dalam kesusasteraan Indonesia kontemporer. Pisau bedahnya adalah teori Hermeneutika Paul Ricouer. Dipadukan dengan interteks dan dekonstruksi sebagai sarana pembacaan.
Dalam disertasi itu, ada 3 karya sastra Indonesia kontemporer yang berbasis Ramayana. Pertama, Rahuvana Tattwa karya Agus Sunyoto. Kedua, Rahwana Putih karya Sri Teddy Rusdi. Dan ketiga, Rahwayana: Aku Lala Padamu karya Sujiwo Tejo.

Dr. Puji Karyanto membaca janji gelar doktoral usai sidang terbuka disertasinya, 13 Januari 2026.-Puji Karyanto-
"Berbeda dengan struktur naratif Ramayana klasik. Ketiga karya sastra itu kisahnya mengalami transformasi signifikan. Itu tampak terutama pada penokohan dan alur cerita. Semua itu membentuk konfigurasi naratif baru," ujarnya.
BACA JUGA:Mahasiswa Magister dan Doktoral Dituntut Menghasilkan Novelty
Ketiganya pun muncul sebagai produk Reformasi. Sebagai bagian dari beragamnya "suara berbeda" yang bermunculan saat itu. Yang tidak lagi linear dengan moral Orde Baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: