Child Grooming Mengancam Anak-Anak

Child Grooming Mengancam Anak-Anak

ILUSTRASI Child Grooming Mengancam Anak-Anak.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

DALAM beberapa hari ini, buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans menjadi salah satu isu dan perbincangan hangat di tanah air. Buku itu menarik perhatian publik karena berisi pengalaman Aurelie ketika menjadi korban child grooming di usia yang masih belia, 15 tahun. 

Keberanian Aurelie mengungkap pengalaman pribadinya tidak hanya memanen simpati pembaca, tetapi juga menjadi ilham dan mengundang korban-korban lain untuk berani bersuara yang sama.

Berkat buku Broken Strings, kini tidak sedikit warganet yang akhirnya berani bercerita bahwa mereka juga pernah mengalami dan ada di masa-masa kelam seperti yang dirasakan Aurelie. 

BACA JUGA:Child Grooming dan Pelecehan Seksual: Pentingnya Kewaspadaan Orang Tua Terhadap Anak

Anak-anak yang menjadi korban grooming biasanya lebih memilih memendam sendirian apa yang dialami. Mereka memilih menyimpan rapat penderitaan yang dialami karena berbagai sebab. 

RELASI KUASA

Child grooming per definisi adalah tindakan di mana orang dewasa menaklukkan anak dengan cara membangun hubungan emosional, kepercayaan, dan keintiman dengan seorang anak atau remaja secara bertahap dan halus untuk tujuan eksploitasi atau pelecehan seksual di kemudian hari. 

Proses dan pendekatan yang dikembangkan sengaja dilakukan untuk memanipulasi korban dan lingkungannya agar niat jahat pelaku tidak terdeteksi.

Perilaku child grooming sendiri sebetulnya bukan fenomena baru. Penggunaan istilah child grooming itu secara spesifik dalam literatur psikologis, hukum, dan kesadaran publik mulai meningkat dan lebih sering dibahas secara luas dalam beberapa dekade terakhir, terutama seiring dengan munculnya kejahatan siber (cyber grooming). 

Referensi akademis dan jurnal ilmiah yang membahas topik child grooming banyak ditemukan pada 2010-an hingga saat ini, menunjukkan peningkatan fokus dan penelitian terhadap fenomena itu. 

Menurut American Bar Association (Asosiasi Pengacara Amerika), child grooming biasanya melibatkan serangkaian perilaku yang dilakukan pelaku (predator) untuk membangun kedekatan dan kepercayaan dengan anak atau keluarganya, memanipulasi anak agar merasa nyaman dengan perhatian khusus, dan secara bertahap mengisolasi anak dari orang lain yang mungkin menaruh curiga.

Berbeda dengan tindak kekerasan seksual pemerkosaan, child grooming biasanya merupakan tindakan pelecehan terselubung, yakni pelaku membangun hubungan emosional dengan anak untuk menghilangkan batasan dan keraguan anak sehingga pelaku dapat melakukan aksinya. 

Proses pendekatan yang dikembangkan pelaku biasanya tidak sebentar dan kebanyakan korban yang dipilih adalah anak atau remaja yang punya kepercayaan diri rendah atau sedang berselisih dengan keluarganya. 

Pelaku child grooming sadar dan lihai dalam mendekati para korban. Mereka tidak bermain kasar dan semata hanya mengandalkan ancaman. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: