Menag Bicara Ekoteologi di Mesir, Tegaskan Peran Agama Menjaga Kemanusiaan di Era AI

Menag Bicara Ekoteologi di Mesir, Tegaskan Peran Agama Menjaga Kemanusiaan di Era AI

Menag Nasaruddin Umar menegaskan kemajuan AI harus berpijak pada nilai kemanusiaan dan etika agama saat konferensi internasional Kementerian Wakaf Mesir.-Dok. Kemenag-

MESIR, HARIAN DISWAY - Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kemajuan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan dan etika agama. 

Hal itu ia sampaikan saat berbicara tentang ekoteologi dalam konferensi internasional yang digelar Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir.

Konferensi tersebut dihadiri Menteri Wakaf sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam Mesir Prof Usamah Al-Sayyid Al-Azhari, serta para ulama, cendekiawan, intelektual, dan peneliti dari berbagai negara. 

BACA JUGA:Menag Bertolak ke Mesir, Bahas Cabang Al-Azhar di Indonesia dan Ekoteologi Global

BACA JUGA:Menag Gelar Rapat Perdana Persiapan Perayaan Imlek 2026 di Masjid Istiqlal

Nasaruddin didampingi Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis M Hanafi dan Tenaga Ahli Menag Bunyamin Yafid.

Menag mengawali paparannya dengan menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto, sekaligus menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Presiden Abdel Fattah El-Sisi atas dukungannya terhadap penyelenggaraan konferensi tersebut.

Dalam paparannya, Menag membedah makna tanggung jawab manusia dalam perspektif Islam. 

Menurutnya, tanggung jawab manusia tidak semata-mata soal mencari penghidupan, tetapi mencakup dimensi moral, amanah sosial, serta kesadaran untuk memakmurkan bumi.

“Dalam kerangka inilah, kami menegaskan pentingnya apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yakni cara pandang yang memahami hubungan antara manusia dan lingkungan berdasarkan prinsip amanah dan tanggung jawab etis,” tegas Nasaruddin di Mesir, Senin, 19 Januari 2026.

BACA JUGA:Isra Mikraj 1447 H, Menag Nasaruddin Umar Ajak Umat Perkuat Kepedulian Sosial dan Lingkungan Lewat Salat

BACA JUGA:Refleksi Kinerja 2025, Menag: Agama Harus Bangkitkan Semangat Bangun Bangsa

Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, bumi bukan milik mutlak manusia, melainkan titipan Ilahi. 

Karena itu, pembangunan dan pemakmuran bumi tidak boleh dilepaskan dari prinsip menjaga keseimbangan lingkungan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: