Menag Bicara Ekoteologi di Mesir, Tegaskan Peran Agama Menjaga Kemanusiaan di Era AI

Menag Bicara Ekoteologi di Mesir, Tegaskan Peran Agama Menjaga Kemanusiaan di Era AI

Menag Nasaruddin Umar menegaskan kemajuan AI harus berpijak pada nilai kemanusiaan dan etika agama saat konferensi internasional Kementerian Wakaf Mesir.-Dok. Kemenag-

Nasaruddin juga menyambut baik pandangan Menteri Wakaf Mesir yang menegaskan bahwa pembangunan peradaban merupakan kewajiban Islam. 

Ia sendiri sependapat dengan pemikir asal Aljazair, Malik bin Nabi, yang menyatakan bahwa peradaban bukan sekadar akumulasi materi, melainkan bangunan kemanusiaan dan moral yang utuh.

BACA JUGA:Kemenag Jatim Tinjau Gereja Surabaya–Sidoarjo Jelang Natal 2025

BACA JUGA:Ponpes di Sumatra Porak-poranda Akibat Banjir dan Longsor, Kemenag: Satu Hilang, Pemulihan Segera Dimulai

Menurut Nasaruddin, keterbelakangan dan kekosongan nilai tidak bisa diselesaikan dengan meniru model peradaban atau teknologi maju semata, melainkan dengan memperbaiki manusia dan relasinya dengan nilai, waktu, serta kerja.

Peradaban tidak akan bangkit kecuali ketika semangat keagamaan terjaga dan terbangun dalam nurani manusia, bukan sebagai ritual yang kaku, melainkan sebagai energi moral yang mengendalikan perilaku, membebaskan akal, dan mengarahkan naluri.

“Jika nilai-nilai hilang, naluri akan bebas tanpa kendali. Dan ketika naluri lepas kendali, manusia kehilangan kompas etiknya,” sambungnya.

Menjaga Kemanusiaan di Tengah Kemajuan AI

Menag menilai tantangan terbesar di era kecerdasan buatan bukan terletak pada kecanggihan algoritma, melainkan pada kemampuan manusia menjaga sisi kemanusiaannya. 

Dunia, kata dia, tidak hanya membutuhkan profesi yang cerdas, tetapi juga beretika dan bernurani.

Di Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar dari sisi jumlah penduduk, pihaknya berupaya meneguhkan pemahaman itu melalui pengaitan pendidikan keagamaan dengan nilai-nilai profesional, serta penguatan etika kerja dalam lembaga-lembaga negara dan masyarakat. 

“Dalam konteks ini, kami memberi perhatian khusus pada isu kecerdasan buatan serta kaitannya dengan wacana keagamaan dan otoritas pengetahuan,” paparnya.

BACA JUGA:Indeks Kerukunan Umat Beragama Tertinggi dalam 11 Tahun, Kemenag Ingatkan Agama Harus Jadi Kompas Moral

BACA JUGA:Ditjen PHU Kemenag Rilis Buku 75 Tahun Penyelenggaraan Haji, Akhiri Tugas Kelola Haji

Ia menegaskan bahwa kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan nurani keagamaan, ijtihad manusia, maupun rujukan etika.

Berbagai diskusi ilmiah yang kokoh, melibatkan para ulama dan pemikir besar Indonesia, menegaskan bahwa kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan nurani keagamaan, ijtihad manusia, dan rujukan etika. Sebesar apa pun kemampuan analisisnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: