Mural Burung Migran Hidupkan Desa Wang Tong di Hong Kong
Seorang pengunjung memotret temannya yang berpose dengan mural burung raja udang berleher putih yang dilukis di sebuah rumah terbengkalai dekat desa Wang Tong, Lantau, Hong Kong.-May James-AP Photo

Rob Aspire melukis burung Long-tailed Shrike di atap rumah batu di Sunset Peak, Lantau, Hong Kong.-May James-AP Photo
Setiap burung dipilih dengan konsep keterkaitan ekologis, keselarasan visual, atau makna simbolis dengan lokasi.
Seekor raja udang dilukiskan menghadap aliran sungai. Burung Swinhoe’s white-eye menyatu dengan dinding dekat pepohonan, seolah menyembunyikan diri di habitat aslinya.
Hampir seluruh mural menghiasi rumah-rumah terbengkalai. Kecuali satu karya yang berada di ketinggian Sunset Peak, sekitar 868 meter di atas permukaan laut.
BACA JUGA:Mural Suro Boyo Karya Djayanti Jadi Highlight Gerai Ketujuh Change-making Beauty Store di Surabaya
Di sana, seekor long-tailed shrike tampak bertengger di atap rumah batu berusia 90 tahun, menghadap lanskap pegunungan Pulau Lantau. Lukisan itu seolah menjadi penjaga sunyi desa yang perlahan ditinggalkan penghuninya.
Kehadiran mural-mural itu menarik ratusan pengunjung. Terutama warga dari pusat kota Hong Kong. Mereka menyusuri jalan setapak dan gang desa.
Pada akhir pekan, sebagian bahkan menggambar tanda panah dengan kapur. Mengubah desa menjadi peta harta karun bagi pemburu mural burung.

Dominic Johnson-Hill mengamati mural burung kingfisher berleher putih yang sedang dilukis oleh Rob Aspire di dekat desa Wang Tong, Lantau, Hong Kong.-May James-AP Photo
Johnson-Hill juga membuat peta daring untuk memandu pengunjung. Ia juga merencanakan tahap berikutnya dari proyek itu.
BACA JUGA:Jelajah Hong Kong bersama HKTB (6): Lanskap Seni dan Kota di M+
BACA JUGA:Jelajah Hong Kong bersama HKTB (5): M+, Ikon Global Budaya Visual Kontemporer Asia
Johnson-Hill berharap semakin banyak burung migran dan burung asli Hong Kong dapat “hidup” di sudut-sudut desa yang terlupakan.
“Burung bermigrasi, pergi dan kadang kembali. Manusia juga begitu. Desa bisa kosong. Tapi tembok tetap ada, bersama seekor burung atau kenangannya,” pungkasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: ap